Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label sajak hidup

Harapan Tahun Baru: Mengingat!

Setiap momen selalu kuanggap penting. Entah itu tahun baru, hari ulang tahun, apapun dari pemancang waktu yang menandakan sebuah peristiwa penting. Penting bagiku sendiri, dan penting bagi kebanyakan orang. Disitu letaknya cermin. Bisa mengingat, lebih tepatnya diingatkan pada waktu-waktu yang dulu pernah berkesan. Karena aku memang pelupa. Sering lupa dengan apa yang menjadi keinginanku sendiri. Bahkan sering diingatkan oleh orang lain. Aku adalah orang yang beruntung. Banyak sekali orang yang mengingatkanku. Banyak juga aku diingatkan oleh waktu. Hingga momen kembali terulang dan memaknai kembali di waktu yang baru terjadi. Seperti hari ini. Momen awal tahun yang sering kali digunakan untuk merefleksi hasil yang didapat di tahun lalu. Ada progres, stagnan, atau turun? Tidak jarang yang punya semangat untuk berubah. Meski hanya angan-angan saja. Tidak jarang pula yang tidak peduli. Merasa dunia ini telah kejam tidak memberikan keuntungan kepadanya. Ada juga jenis teman yan...

Mulai Tulis "Aku"

Aku baru ingat, aku jarang sekali menulis kata "aku". Dari hari ke hari, aku selalu menulis. Namun kata ganti pertama itu, selalu aku jauhi. Malah semakin jauh dari menulis kata aku, semakin lebih baik. Tidak adanya kata aku dalam tulisanku hanyalah sebuah keharusan semata. Pekerjaan memaksaku untuk menjadi orang lain. Aku tidak bisa mengemukakan pendapatku sendiri, meski aku yang menuliskannya.  Tapi persoalan larangan menulis aku secara eksplist maupun implisit, masih dalam perdebatan. Sebenarnya bisa saja, aku menulis tanpa menyertakan kata aku, tapi itu adalah aku. Hanya konteksnya berbeda. Aku dalam "aku" dan aku dalam kalimat-kalimat penunjang aku berbeda fungsi. Ah, semakin rumit saja. Seorang kawan bertanya, "Terus bagaimana kabarmu? Ceritalah" Pertanyaan itu membuatku agak bingung. Apakah memang sebenarnya aku butuh untuk cerita tentang aku? Sedangkan aku sendiri tidak pernah menginginkan untuk kuketahui sendiri bagaimana aku ini. ...

Orang Biasa

Dua minggu ini banyak hal yang menjadi perhatian saya. Banyak pelajaran juga yang saya dapat dari berbagai macam hal tersebut. Mulai dari pekerjaan, keluarga, dan asmara. Ditambah lagi bagaimana cara pandang saya terhadap sosial masyarakat di sekitar saya. Oh ya satu lagi, saya juga merasa ada keberjarakan antara saya dan tuhan. Saya benar-benar merasa menjadi manusia biasa. Saya pikir saya adalah orang yang sentimentil. Saya tidak bisa berfokus pada satu hal. Semuanya sepertinya terus memasuki pikiran saya silih berganti. Kadang-kadang juga berbarengan. Apalagi ketika pada kondisi dimana saya berhenti dan memikirkan hal itu semua. Sebenarnya langkah demi langkah sudah saya pastikan untuk berjalan. Hanya saja, sama sekali progress reportnya sering kali tertinggal. Bahkan hilang. Padahal, ingatan itu harusnya terus bisa mengisi puzzel-puzzel kehidupan saya. Sehingga saya bisa dikatakan mampu belajar dari pengalaman. Kemampuan belajar yang saya miliki ternyata tidak bisa sa...

Biar Nggak Lagi Mikirin Kamu

S udah lama saya tidak nyampah di blog ini. Benar memang kata orang, kalau sudah kerja tidak banyak yang bisa dilakukan. Kesibukan kerja membuat orang jadi lupa apa yang menjadi passionnya. Yah yang namanya kerja pasti ada tuntutan dan beban kerja yang ditanggung. Saya mencoba untuk tidak larut, pada awalnya. Namun ternyata memang kompleks apa yang menjadi sebab saya bisa lupa dengan keinginan saya dulu. Yang awalnya hobi, malah jadi beban kerja yang sama sekali tidak asyik. Itu terus berlanjut sampai saat ini ketika menulis keluh kesah yang tidak berarti. Mungkin saja saya memang terlalu mudah lupa dengan hal-hal penting. Sesuatu yang sangat fatal sebenarnya. Malahan, hal-hal yang sepele seperti mikirin kamu itu yang membuat saya sering membuang waktu untuk mengenang. Padahal kalau dipikir-pikir itu tak punya arti apa-apa. Terlalu menyita banyak waktu. Menyita fokus kerja yang bisa menambah penghasilan dan menyusun masa depan. Terus kalau ada pertanyaan, apakah ketika m...

Agen Neptunus: Menyerahkan pada Gelombang

"Masih sulit?" katanya. Satu kalimat pertanyaan ambigu yang membuatku menahan nafas. Berat. Pertanyaan ini mengandung beberapa tafsiran. Bisa jadi pertanyaan retoris, sindiran, atau malah memang pertanyaan sinis. Dia memang sengaja memberikan kesan-kesan itu. Agar aku terus menjaga jarak. Menyerahkan kepada gelombang dan angin laut di mana sebuah botol yang terlempar dari atas kapal di tengah laut, akan bersandar. Botol tersandar (terdampar) oleh gelombang laut. "Aku sudah terlanjur ketagihan denganmu, mas," katanya. Pertanyaanku terus menerus mengalir mencari asosiasi dan pembenaran-pembenaran lewat setiap kata-kata, sorot mata, dan reaksi-reaksi lain darinya. Sering pula aku menemukan korelasi dari kata-katanya dengan buah harapanku untuk bisa memilikinya. Kemudian, aku menjadi semakin egois. Mengambil porsi waktu terbesar dari setiap waktu luangku untuk menekannya dengan pertanyaan-pertanyaan. Terus menerus mencari korelasi antara kata-kata yang dia ungka...

Meng-Aku

Aku. Kata pertama yang ingin sekali ku tulis. Pun dalam setiap bahasa. Lewat kata, simbol, dan isyarat lainnya. Putaran matahari telah memberikan keputusan, aku harus lebih lekat lagi. Pada satu persepsi. Hal-hal yag lebih dari sekedar bersifat pribadi. Lebih dari itu. Lebih dari apapun dari setiap pemaknaan. Jarak telah ku buat. Dan aku kehilangan pendengaran. Setiap bunyi nafas, derap jantung, bahkan sampai pada suara yang membuatku mencintai hidup ini. Indra perasaku semakin bebal. Sulit merasakan sakit. Mungkin aku menginginkan sakit. Mungkin aku menjadi semakin bodoh. Tapi prihal bodoh itu pasti. Pada saat yang sama bayanganku melihatku dalam cermin, kebodohan itu semakin akut. Bentuk dukungan dari kenyamanan dan kebodohan adalah dua hal yang sama. Kemudian, sakit dan pengetahuan juga dua hal yang sama pula. Semakin rumit. Padahal aku ingin menulis dengan sederhana. Dari satu kata. Aku. Aku tak bisa mengontrol. Kenapa semua hal selalu lepas. Menjauh dari kesederhanaan. ...

Surat Cintaku

Kurasakan sebuah kehilangan. Harapan akan sebuah cinta lenyap. Tak ada yang bisa aku ungkapkan selain hanya kesedihan dan perihnya luka hati ini. Kau, sampai saat ini pun tidak bisa aku pahami, kenapa tak kau ijinkan lagi cintaku menggapai hatimu? Sebenarnya masih ingin ku besarkan harapanku. Ingin sekali bayangmu selalu ku dekap rapat. Aku masih bertanya-tanya mengapa cinta yang dulu pernah kau akui, kini tak lagi kau rasakan? Apakah cinta memang bisa hilang? Akh. Sebenarnya aku sudah tak kuasa menahan perih hati ini. Tak kuasa aku memikirkanmu lagi. Ingin kulupakan semua kenangan bersamamu, tapi kuakui rasaku terhadapmu masih sangat kuat. Aku takut melepas cinta yag lama aku bangun. Tulisan ini, bukan untuk melupakanmu. Tulisan ini adalah wujud ketidakmampuanku dalam menghadapi besarnya rasaku. Aku masih cinta dan akan selalu sayang padamu. Cinta memang mengisi kehidupan dengan penderitaan.

Rayuan Tanpa Kata...

kata tidak lagi bersahabat dengan imaji mungkin saja dia cemburu terhadap kedekatanku dengan bantal kenyamanan yang membuai mimpi pintu kemana sajanya doraemon dalam dunia nyata seorang bijak berkata "jangan kebanyakan mimpi, nanti kalo bangun kecewa" masa bodohlah, inseption telah memperdaya minatku sekalian saja hidup di alam mimpi menjadi pencipta ...  ...  ... bayangkan kamu punya rumah besar di pinggir pantai seorang istri cantik menyiapkan kopi dan gorengan di meja teras sun rise....tidak ada kata yang bisa terucap.... lihat itu disampingmu, istrimu terlihat lebih lezat dari kopi dan gorengan lagi-lagi rayuan tanpa kata tak mampu kamu tolak ...  ...  ... sudah tak ada lagi kata yang lebih menarik lihat saja tubuh elok nan erotis hemm hembusan udara memanas ajakan tak berkata lebih kuat dan mengikat....

Berguru Cinta

Rindu malam menggapai kelopak mataku pada bintang-bintang yang temaram. Detik waktu selalu hilang dari hidup, meski sadar seakan berkuasa. Ingin ku berguru pada Majnun, sang pecinta sejati. Desah helaan nafasnya selalu memuja sang kekasih. Hidup dalam cinta, hingga konon dunia tak mampu menjadi wadah cintanya. Duhai kasih, beribu detik waktu ku melupakanmu. Sudikah kau memaafkanku yang telah menghianati cintaku. Seharusnya pantang bagi sang pecinta untuk sedetikpun berpaling. Lihatlah Majnun yang selalu melihat dan memuja kekasihnya. Udara kosong selalu menjadi wahana untuk menyampaikan rindu dan asmaranya. Kamu tahu sayang apa yang dia katakan pada rembulan dan malam? " Rembulan pun akan malu saat kekasihku datang, wahai malam yang merindu, takkan pernah ada lagi pembeda antara kau dan kekasihku gelapmu bagaikan rambut hitamnya yang terurai gemerlap bintang yang engkau sajikan selayaknya senyum manis dari bibirnya, pesona keindahan semesta alam jika ia tersenyum semua...

Ternyata Buahku Beracun

Tersentil pertanyaan yang dulu pernah terbuang ke udara kosong tak ubahnya keadaan sekarang, masih tetap saja udara kosong yang menganga sedikit ingin ku tahan, namun malah bibit panas keluar menjumbul dalam dada tumbuhan parasit yang akan menggerogoti pohon buahku yang telah lama ku pupuk akankah kuganti dengan pohon lain ataukah harus ku pertahankan aku pikir pohon ini akan berbuah manis, tak kusangka hanya peluh dan keringat terbuang sia-sia ternyata pohon ini menyimpan racun yang dapat membuatku mati dalam sekejap apakah harus ku perkuat sistem imun tubuhku untuk menahan gejolak yang akan datang namun aku juga tak yakin mampu menahan serangan racun itu aku pikir aku bukan seorang egois yang akan memberikan racun kepada orang lain biasanya  aku berpikir biarlah aku saja yang menderita dari pada orang lain yang akan menderita biarlah aku saja yang menanggung hasil dari perbuatanku yang telah menumbuhkan pohon berbahaya ini mungkin sudah menjadi nasibku untuk tidak ...