Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label opini

Mulai Tulis "Aku"

Aku baru ingat, aku jarang sekali menulis kata "aku". Dari hari ke hari, aku selalu menulis. Namun kata ganti pertama itu, selalu aku jauhi. Malah semakin jauh dari menulis kata aku, semakin lebih baik. Tidak adanya kata aku dalam tulisanku hanyalah sebuah keharusan semata. Pekerjaan memaksaku untuk menjadi orang lain. Aku tidak bisa mengemukakan pendapatku sendiri, meski aku yang menuliskannya.  Tapi persoalan larangan menulis aku secara eksplist maupun implisit, masih dalam perdebatan. Sebenarnya bisa saja, aku menulis tanpa menyertakan kata aku, tapi itu adalah aku. Hanya konteksnya berbeda. Aku dalam "aku" dan aku dalam kalimat-kalimat penunjang aku berbeda fungsi. Ah, semakin rumit saja. Seorang kawan bertanya, "Terus bagaimana kabarmu? Ceritalah" Pertanyaan itu membuatku agak bingung. Apakah memang sebenarnya aku butuh untuk cerita tentang aku? Sedangkan aku sendiri tidak pernah menginginkan untuk kuketahui sendiri bagaimana aku ini. ...

Belajar Komentar dari Teater Indonesia

Saya benar-benar tidak mengerti apa yang harus saya komentari dengan beberapa fenomena-fenomena ini. Kurs mata uang Rupiah sedang anjlok, ada orang bernama Tuhan, ada penggusuran Kampung Pulo, ada Rizal Ramli. Sebelumnya ada Trigana Air, ada Muktamar NU plus Muhammdiyah. Ada juga sebelumnya MUI sedang sibuk merespon masalah riba. Terbentuk sebuah panggung teater di sana. Banyak orang yang pastinya menyaksikan dengan berbagai macam emosi. Khususnya bagi orang-orang yang ada di daerah. Yang jauh dari pusat pemerintahan.  Ada yang marah, ada yang panik, ada yang buat grup hatres, ada yang jadi lovers. Sepertinya semua orang memang masih ingin jadi bagian dari negeri ini. Kalau tidak, pasti banyak orang yang tidak acuh dengan semua itu. Begitu juga dengan saya secara pribadi. Ada keinginan untuk selalu merespon gejala-gejala yang ada di atas pentas tersebut. Saya tidak bisa hanya berdiam dengan beberapa hal yang mengganggu nurani saya. Mungkinkah itu senada atau malah ber...

Idul Adha: Khotib yang tidak tahu permasahan perbedaan

Idul adha menjadi momen suci bagi kaum muslim sedunia. Seperti halnya hari raya idul fitri, hari ini menjadi waktu berkumpulnya keluarga dan kerabat-kerabat dekat. Mereka tidak sedikit yang berbeda faham, ideologi, dan pendapat. Namun, bagaimana yang akan terjadi jika ternyata ada orang yang mengklaim dirinya paling benar dan tidak menghargai pendapat orang lain? Tidak Seharusnya Membakar yang Lain [http://nietroozz.blogspot.com/2005_07_01_archive.html] Kemarin, saya pergi mengunjungi seorang kawan di Probolinggo. Hari itu bertepatan dengan hari Jum’at sekaligus menurut penanggalan qomariyah, adalah hari tarwiyah. Ada juga yang menyebutnya Arofah. Perbedaan penanggalan ini sudah umum terjadi. Dan banyak orang sudah mulai terbiasa dengan perbedaan tanggal-tanggal qomariyah. Seperti halnya hari raya idul fitri kemarin. Banyak orang tak lagi mempermasalahkannya. Mereka tetap menjalankan ibadahnya masing-masing, sesuai dengan keyakinan kelompoknya masing-masing. Hanya saja...

Berawal dari Public Sphere

Waktu senggang selalu ingin kita lewatkan dengan mengunjungi tempat-tempat asyik. Bersama kawan-kawan, dengan cara bergaul ala kita. Dengan cara pandang ala kita memandang hal-hal di sekitar kita. Tidak soal bagaimana sebuah tempat itu memberikan pemandangan atau fasilitas-fasilitas kesenggangan. Yang terpenting malah bagaimana sebuah tempat itu memberikan kita kebebasan untuk menjadi kita. http://citris-uc.org/related-research/project/visualizing-ambivalence-public-sphere/ Menjadi kita, adalah ungkapan untuk mencari sebuah persamaan dari berbagai macam perbedaan. Menjadi kita dalam konteks ini bukan permasalahan fisik atau material. Lebih pada persamaan pandangan, prinsip, hobi, ataupun tujuan. Kita mengenalnya lewat berbagai macam komunitas. Sebuah wadah bentukan hubungan sosial masyarakat dengan kesadaran. Tentu saja di dalamnya pasti terbentuk nilai-nilai. Nilai-nilai itulah yang akan membentuk dunia kita. Kadang saya menyebutnya dengan dunia idealisme. Sebuah duni...

Ruang Kosong

“Lihatlah angin! Jika tak mampu melihatnya, dengar suaranya! Rasakan dengan kulitmu! Simpan angin itu, bawa ke mana saja kau akan pergi! Kemudian gunakan angin itu untuk menerbangkan dirimu ke mana saja kau mau!” Semua materi di dunia ini selalu bisa dibuktikan dengan indra. Melihatnya, mendengarkannya, merasakannya, kemudian menamainya, membentuknya dalam pikiran. Beruntung kita punya memori yang secara sadar maupun tidak sadar membentuk dunia kita. Mengisi sedikit demi sedikit dunia, lewat cara pandang masing-masing individu. Yang bisa berlaku universal dengan berbagai macam kesepakatan di antara manusia. Proses indrawi itu sebenarnya adalah proses individu. Masing-masing manusia berbeda dalam menafsirkannya. Ketika kita melihat sebuah benda, misalnya gelas di depan kita, kita punya gambaran bebeda-beda. Karena kita tidak pernah sama dalam melihatnya. Sudut pandang, latar belakang budaya, dan pengalaman selalu saja membuat kita tak pernah melihat satu hal yang sama. ...

Keterjebakan Semu

Tentang seorang kawan. Mungkin bisa dikatakan sahabat. Atau malah orang yang sangat dekat namun berjarak. Aku tidak bisa mengkategorikannya ke dalam sebuah tingkatan status hubungan pertemanan. Pastinya adalah dia seorang yang saat ini dalam kondisi kosong. Dan itu membuatku bingung. Karena akulah orang yang selalu diajaknya sharing dang diskusi. Tentang dunia kami. Asmara, sosial, politik, budaya, seni, dan organisasi. slowbuddy.com Aku lupa dengan awal kami bertemu. Dan juga lupa kapan kami bisa begitu dekat. Kata kawan saya yang lain, hal itu tidak usahlah dipikirkan. Karena basa-basi seperti perkenalan dan semacamnya hanya sebuah usaha untuk mencari keuntungan pribadi. Bukan ketulusan. Seperti ketika seorang anak mengenali ibunya. Toh pada akhirnya kami bisa begitu dekat. Sering sekali kami berbicara tentang dunia kami masing-masing. Tentang buah pikiran dan pendapat yang tidak selalu sama. Bukan untuk saling mengungguli satu dengan yang lain. Tapi karena alasan m...

Buletin Jum'at (Bukan) Media Propaganda

Ummat Islam 'Ummatan Wahidah'. Begitulah judul yang terpampang dalam buletin Jum'at Edisi 496/11 Juli 2014, terbitan Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Universitas Jember. Buletin yang kerap kali mencoba untuk menelaah kondisi sosial di dalam negeri ini lewat kacamata Islam. Sesuatu yang menurut saya layak untuk diapresiasi, karena mau mencoba untuk selalu setia menelaah dinamika islam dalam setiap momen. Seperti artikel yang ditulis pada Jum'at ini. LDK mencoba untuk menelaah kondisi politik dalam negeri yang memang kebetulan sedang 'panas'. Artikel itu menghimbau umat islam agar menjaga persatuan. Karena umat islam adalah ummatan wahidah. Sebuah kaum yang disatukan oleh kesamaan keyakinan. Kesamaan ini tidak terbatasi oleh warna kulit, darah, maupun teritorial. Sebuah konsep persatuan selayaknya konsep multikultural yang menitikberatkan pada kemanusiaan. Hanya saja konsep Islam ini lebih mengacu pada realitas spiritual yang menurut saya pribadi berada satu taha...

Food #not for Sale

Food not for sale, sebuah kalimat yang tidak mungkin terwujud dalam dunia ini. Makanan telah menjadi komoditas nomor satu dunia. Sejak manusia mulai mengenal alat pertukaran. Sejak keluarga membesar dan mulai mendiferensial, kemudian muncul kelompok-kelompok dengan setiap perbedaannya. Anggota kelompok terus membesar dan mengklaim kepemilikannya. Dunia yang dibangun oleh orang jawa, mangan ora mangan asal kumpul, kini tidak berlaku lagi. Saya melihat slogan itu sebenarnya dalam sebuah konteks konseptual ekonomi. Konsep gotong royong kebersamaan dalam membangun ekonomi bersama. Itulah yang mungkin ingin disampaian oleh leluhur bangsa jawa. Mangan merupakan simbol dari sebuah usaha untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Ora mangan berarti sebuah resiko yang seharusnya ditanggung bersama atas sebuah usaha ekonomi yang dilakukan bersama-sama ( kumpul).  Namun, itu menjadi keniscayaan. Sebuah konsepsi yang hanya menjadi wacana, karena belum sampai wacana itu membumi kita telah ha...

Politik (Uang) dalam Keluarga

Keluarga telah menjadi basis politik paling sempit dalam konstalasi politik negara. Hal ini disebabkan oleh kuatnya kultur patriarki dalam masyarakat timur. Hingga akhirnya sebuah prisnip sering kali dikalahkan oleh kesungkanan atas dasar menjaga hubungan keluarga. Banyak orang lebih menjaga kerukunan keluarga dari pada menciptakan permusuhan karena alasan politik negara. Apalagi persinggungannya dengan kehidupan keluarga sehari-hari sangat jauh. Karena sebanarnya prilaku politik itu berdasarkan kepentingan ekonomi. Bukan perjuangan menentukan arah kehidupan berbangsa dan bernegara. Pemikiran ini seketika mengemuka ketika salah seorang teman bercerita lewat sebuah tulisannya. Dia merasa muak karena telah merasa terbelenggu dalam keluarganya. Dia menganggap hanya menjadi obyek dari kesalahan tafsir orang-orang yang memegang erat budaya keluarganya. Budaya arab yang sangat membatasi anak-anak perempuannya. Batas itu baru dia rasakan sekarang, saat dia telah selesai memupuk idealisme...

Bumi Ini Tidak Hanya Indonesia

Tuntutan zaman mengalihkan diriku untuk lebih bisa memandang terhadap luas cakrawala yang membentang. Terdapat begitu banyak warna disana. Semua warna terkombinasi dan memunculkan keragaman bak serpihan bias cahaya prisma. Juga terlihat ada sebongkah awan hitam menggumpal yang hendak datang menutup semua imagi dan cita. Tahulah setiap manusia, apa yang akan datang terlebih dahulu. Karena semua ada konsekuensi. Aksi dan reaksi tidak hanya terjadi pada bola pingpong yang bertolak dari meja kayu dan bet karet. Begitupun semua makhluk hidup mulai yang tidak berakal hingga berakal. Sejak tadi malam serasa dunia ini hanya sebatas laut-laut dan pulau dalam lingkup nusantara. Padahal sejak sekolah dasar dulu sudah diajarkan tentang geografi. Ratusan negara dan kota harus selalu siap untuk dieksplorasi di dalam setiap otak murid-murid kecil. Beragam suku juga telah dikenalkan mulai suku Aborigin hingga Indian. Namun juga sayang beribu sayang, perkenalan itu hanya lewat gambar yang hanya ...