Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label duniaku

Mulai Tulis "Aku"

Aku baru ingat, aku jarang sekali menulis kata "aku". Dari hari ke hari, aku selalu menulis. Namun kata ganti pertama itu, selalu aku jauhi. Malah semakin jauh dari menulis kata aku, semakin lebih baik. Tidak adanya kata aku dalam tulisanku hanyalah sebuah keharusan semata. Pekerjaan memaksaku untuk menjadi orang lain. Aku tidak bisa mengemukakan pendapatku sendiri, meski aku yang menuliskannya.  Tapi persoalan larangan menulis aku secara eksplist maupun implisit, masih dalam perdebatan. Sebenarnya bisa saja, aku menulis tanpa menyertakan kata aku, tapi itu adalah aku. Hanya konteksnya berbeda. Aku dalam "aku" dan aku dalam kalimat-kalimat penunjang aku berbeda fungsi. Ah, semakin rumit saja. Seorang kawan bertanya, "Terus bagaimana kabarmu? Ceritalah" Pertanyaan itu membuatku agak bingung. Apakah memang sebenarnya aku butuh untuk cerita tentang aku? Sedangkan aku sendiri tidak pernah menginginkan untuk kuketahui sendiri bagaimana aku ini. ...

Orang Biasa

Dua minggu ini banyak hal yang menjadi perhatian saya. Banyak pelajaran juga yang saya dapat dari berbagai macam hal tersebut. Mulai dari pekerjaan, keluarga, dan asmara. Ditambah lagi bagaimana cara pandang saya terhadap sosial masyarakat di sekitar saya. Oh ya satu lagi, saya juga merasa ada keberjarakan antara saya dan tuhan. Saya benar-benar merasa menjadi manusia biasa. Saya pikir saya adalah orang yang sentimentil. Saya tidak bisa berfokus pada satu hal. Semuanya sepertinya terus memasuki pikiran saya silih berganti. Kadang-kadang juga berbarengan. Apalagi ketika pada kondisi dimana saya berhenti dan memikirkan hal itu semua. Sebenarnya langkah demi langkah sudah saya pastikan untuk berjalan. Hanya saja, sama sekali progress reportnya sering kali tertinggal. Bahkan hilang. Padahal, ingatan itu harusnya terus bisa mengisi puzzel-puzzel kehidupan saya. Sehingga saya bisa dikatakan mampu belajar dari pengalaman. Kemampuan belajar yang saya miliki ternyata tidak bisa sa...

Belajar Komentar dari Teater Indonesia

Saya benar-benar tidak mengerti apa yang harus saya komentari dengan beberapa fenomena-fenomena ini. Kurs mata uang Rupiah sedang anjlok, ada orang bernama Tuhan, ada penggusuran Kampung Pulo, ada Rizal Ramli. Sebelumnya ada Trigana Air, ada Muktamar NU plus Muhammdiyah. Ada juga sebelumnya MUI sedang sibuk merespon masalah riba. Terbentuk sebuah panggung teater di sana. Banyak orang yang pastinya menyaksikan dengan berbagai macam emosi. Khususnya bagi orang-orang yang ada di daerah. Yang jauh dari pusat pemerintahan.  Ada yang marah, ada yang panik, ada yang buat grup hatres, ada yang jadi lovers. Sepertinya semua orang memang masih ingin jadi bagian dari negeri ini. Kalau tidak, pasti banyak orang yang tidak acuh dengan semua itu. Begitu juga dengan saya secara pribadi. Ada keinginan untuk selalu merespon gejala-gejala yang ada di atas pentas tersebut. Saya tidak bisa hanya berdiam dengan beberapa hal yang mengganggu nurani saya. Mungkinkah itu senada atau malah ber...

Biar Nggak Lagi Mikirin Kamu

S udah lama saya tidak nyampah di blog ini. Benar memang kata orang, kalau sudah kerja tidak banyak yang bisa dilakukan. Kesibukan kerja membuat orang jadi lupa apa yang menjadi passionnya. Yah yang namanya kerja pasti ada tuntutan dan beban kerja yang ditanggung. Saya mencoba untuk tidak larut, pada awalnya. Namun ternyata memang kompleks apa yang menjadi sebab saya bisa lupa dengan keinginan saya dulu. Yang awalnya hobi, malah jadi beban kerja yang sama sekali tidak asyik. Itu terus berlanjut sampai saat ini ketika menulis keluh kesah yang tidak berarti. Mungkin saja saya memang terlalu mudah lupa dengan hal-hal penting. Sesuatu yang sangat fatal sebenarnya. Malahan, hal-hal yang sepele seperti mikirin kamu itu yang membuat saya sering membuang waktu untuk mengenang. Padahal kalau dipikir-pikir itu tak punya arti apa-apa. Terlalu menyita banyak waktu. Menyita fokus kerja yang bisa menambah penghasilan dan menyusun masa depan. Terus kalau ada pertanyaan, apakah ketika m...

Agen Neptunus: Menyerahkan pada Gelombang

"Masih sulit?" katanya. Satu kalimat pertanyaan ambigu yang membuatku menahan nafas. Berat. Pertanyaan ini mengandung beberapa tafsiran. Bisa jadi pertanyaan retoris, sindiran, atau malah memang pertanyaan sinis. Dia memang sengaja memberikan kesan-kesan itu. Agar aku terus menjaga jarak. Menyerahkan kepada gelombang dan angin laut di mana sebuah botol yang terlempar dari atas kapal di tengah laut, akan bersandar. Botol tersandar (terdampar) oleh gelombang laut. "Aku sudah terlanjur ketagihan denganmu, mas," katanya. Pertanyaanku terus menerus mengalir mencari asosiasi dan pembenaran-pembenaran lewat setiap kata-kata, sorot mata, dan reaksi-reaksi lain darinya. Sering pula aku menemukan korelasi dari kata-katanya dengan buah harapanku untuk bisa memilikinya. Kemudian, aku menjadi semakin egois. Mengambil porsi waktu terbesar dari setiap waktu luangku untuk menekannya dengan pertanyaan-pertanyaan. Terus menerus mencari korelasi antara kata-kata yang dia ungka...

Merasa Hidup di Car Free Day

Pagi tadi aku merasa terlahir ke dunia. Ketika kulihat sinar matahari pagi, yang warnanya kuning cerah, hangat, dengan udaranya yang dingin-dingin menyejukkan. Banyak orang dengan memakai pakaian trining, kaos, sepatu cat , naik sepeda, jalan, menuju ke satu arah alun-alun kota Jember. Sinar matahari itu menurun, memendekkan bayang-bayang pohon, gedung, rumah, dan bangunan lainnya yang menghalanginya dariku. Aku, di atas sepeda motor mengangkat tanganku setinggi mungkin untuk meraih sinarnya. Tanganku menghangat, saat sinarnya mulai mengenai ujung-ujung kukuku. Ada keceriaan mencoba membuncah dari dadaku, lantaran sensasi yang sudah lama tak kurasakan. Alun-alun kota, sedang berlangsung car free day. Kuparkir sepeda dan berjalan mengikuti arus manusia mengitari lapangan berbentuk lingkaran. Keceriaanku juga aku hembuskan ke setiap orang lewat gelagatku dan tablo-tablo layaknya seorang lakon dalam teater. Gerakan-gerakan "aneh" mengikuti instruktur senam di lapangan, ...

Gitar, Raket, dan Leri

Pertanda apa ini? ketika tiga kali secara beruntun, aku diingatkan dengan sang mantan. Lewat benda-benda yang menyimpan kesan sosoknya. Raket, gitar, dan leri (air cucian beras). Untung saja kenangan itu muncul tidak dengan rasa sesak. Entahlah, yang jelas bibirku menyimpul mengingat kilasan gambaran masa lalu itu. Kemarin malam, awal dimulai kilasan kenangan itu. Meski sebelum-sebelumnya, gitar yang dia beri sebagai kado ulang tahunku itu, telah membuatku kebal tentang kenangan. Lagi-lagi dengan seorang kawan yang biasa membicarakan tentang segala hal. Lewat topik yang sangat sederhana, cerita keseharian. Jika kalian tidak pernah menemukan relasi seperti ini, antara aku dan kawanku itu, jangan membayangkan yang tidak-tidak. Memang sedikit agak aneh. Dua orang lelaki berbicara tentang aktivitas keseharian. Ah janganlah dibayangkan. Aku terpaksa menulis ini hanya untuk menunjukkan betapa kami terbuka satu sama lain. Itu saja. Bukan berarti ada relasi khusus di antara kami. Kami nor...

Aku dan Macapat

Aku ingin terus memenuhi janjiku untuk terus menulis. Dengan topik bahasan yang aneh, ataupun hanya sekedar cerita datar. Karena aku rasa titik roda masaku kembali pada titik paling bawah. Aku begitu sangat merasa bodoh sekali. Aku gunakan semua kata ‘lebih’ itu untuk menegaskan bahwa memang demikian yang terjadi. Aku masih tidak tahu, tulisan ini akan bisa panjang atau malah hanya sekedar paragraf-pragraf pendek yang tidak menarik. Aku hanya ingin memenuhi kewajibanku saja. Bila ada orang yang mengatakan kalau tulisanku jelek, atau aku hanya ‘nelek’ memang demikian adanya. Aku ingin membiasakan diriku untuk terus menulis. Mengulang kalimat kemarin, “Aku menulis untuk meringankan beban kepalaku untuk mengingat.” Aku tambahkan, “Dan memahami tentang sesuatu.” Tidur panjangku. Bukan sebuah metafora atau bentuk analogi. Ini kalimat yang memang berarti secara tekstual. Karena memang rata-rata aku tidur lebih dari enam jam tiap hari. Meski aku tak pernah tidur malam, tapi hari-hari...

Selalu Ada Sisi Baik Kok

Saya tidak ingin ketinggalan dengan gegap gempita pemilu kali ini. Karena memang sangat manarik untuk diikuti. Berbagai macam fenomena yang bisa dikatakan baru muncul pada pemilu kali ini. Ini adalah sebuah momen yang saya juga ikut merasa menjadi bagian darinya. Sebuah momen demokrasi yang 68 tahun lalu diperjuangkan dengan mengorbankan jiwa raga. Demi mendapatkan kebebasan menentukan nasib sendiri, menentukan arah politik sendiri, dan kebebasan menentukan masa depan sendiri. Saya mengakui menjadi salah satu dari orang-orang yang mempunyai harapan tinggi pada pemilu kali ini. Melihat begitu banyak angin positif yang dihembuskan oleh para politikus negeri ini. Bahwa pemilu ini akan membawa Indonesia pada kemajuan yang diidam-idamkan selama ini. Memang tidak semua politikus bersih. Banyak yang mengatakan demikian dan debat capres pun sampai ada komentar tentang “maling-maling” politik. Tapi apa salahnya ketika kita harus percaya bahwa pada dasarnya setiap manusia itu baik. Naif...

Aku dan Malam Ini

Aku dan malam ini bersama dengan sebuah cerita. Ada semacam keresahan ketika dejavu tiba-tiba datang membawa kenangan. Momen ketika dulu banyak sekali hari terisi dengan gelak tawa dan duka. Proses-proses belajar berseni dan memainkan peran dalam teater. Berkawan dengan teman-teman yang haus dalam mencari jati diri masing-masing. Momen itu kini telah berlalu. Muncul dan mengingatkanku dalam dejavu-dejavu. Aku lupa, sudah dejavu yang keberapa. Seperti ketika tadi aku berbicara dengan seorang kawan, mengobrol di warung kopi. Sebuah momen kembali terulang, sekejap aku terdiam. Menerawang gejala yang membuatku bingung apakah peristiwa yang baru terjadi sudah pernah terjadi sebelumnya. Secara tiba-tiba aku rindu dan khawatir. Apakah momen ini hanya menjadi kenangan saja? Momen ketika aku bisa bersama tiap waktu, berbicara apa saja, tentang prihal apa saja tanpa harus menutup-nutupi. Waktu berjalan dan melahirkan ribuan konsekuensi. Kedatangan dan kepergian. Pertemuan dan perpisahan. Itu k...

Kematianku

Minggu ini dan untuk minggu selanjutnya aku sadar, aku telah mati. Kematian ini kusengaja untukku pelajari betapa benar-benar mati itu sesuatu yang sangat tidak mengenakkan. Kamu akan merasa kosong, kamu akan merasa segala sempit dan gelap, dan kamu akan merasakan tubuhmu berat surit untuk digerakkan. Begitulah yang terasa saat ini, saat kematianku ini. Keresahanku ternyata menjalar pada teman sekotak. Kotak kecil berukuran 4 X 4 meter itu juga merasakan apa yang aku rasa. Kematian ternyata menjalar. Ternyata seperti penyakit menular yang bisa menular ke setiap orang di sekitar. Jika mungkin diriku sendiri tidak apa lah, tapi kenyataannya aku malah juga menyengsarakan orang lain. Dari situ aku sedikit ingin mempercepat kematianku. Aku tidak ingin orang lain yang berada di sekitarku ikut-ikutan mati tanpa mereka sadari bahwa kematian juga harus dipelajari. Seperti sekarang ini. Seperti waktu-waktu yang mengikis dada dan emosiku sendiri. Berbagai macam peristiwa aku pantau dan satu...

Aku Suka Hari Ini

Kusisakan setengah hari untukku melihat siang. Kemudian satu langkah kakiku mengawali hari untuk merangkai cerita hari itu. Aktifitas paling sederhana. Mandi. Ganti baju. Pinjam sepeda. Berangkat. Kuturut semua yang ada dalam kepala ini yang terlalu lama menggunakan mimpi untuk mengisi hari. Pertama memenuhi jajiku pada seseorang yang sudah hampir tiga bulan terbengkalai. Tugas kuliah dalam bentuk wawancara dari perusahaan suwar-suwir. Kemudian membayar tagihan speedy. Menemui dosen untuk proyek yang hampir sebulan juga terbengkalai. Berbincang dengan temen-temen Manifest. Mengurus ruang rapat amanah dari bu Lilik. Dan terkahir ngopi. Beberapa hal baru. Ya saya suka hari ini. Karena aku bisa memberikan sebuah hadiah kepada seseorang yag kemarin ulang tahun. Cukup ringkas perjalanan hari ini. Hanya terangkum dalam satu paragraf saja. Lebih dari itu sebenarnya banyak hal lain. Secara tidak sengaja bisa mendapat do'a dan wejangan dari bu Prapti, seorang dosenku. Berkenalan dengan ...

Bulan Tak Terpengaruh Musim

Oh udara malam ini begitu dingin. Banyak yang bilang musim kemarau sudah mau datang. Biarlah. Meski kemarau datang, tetap saja diriku tak beranjak dari sini. Bulan pun tak sebebas musim, yang katanya bisa berubah kapan-kapan. Andai saja bulan seperti juga musim, mungkin saja, waktu tak akan menjadi perdebatan oleh manusia. Semakin nglantur saja apa yang aku bicarakan. Terasa kaku dan tak bisa berpikir jernih. Kayak ada beban dalam pikiran ini yang mengganjal. Di satu sisi aku ingin memiliki cinta lagi, di sisi lain, aku masih ingin sendiri lagi, di sisi lainnya lagi aku bingung, haha dasar manusia tak punya pendirian. Akhir-akhir ini aku sedikit takut dengan tindakanku yang bisa menyakiti orang lain. Beberapa cewek deket dan aku nggak bisa menentukan sikap. Ingin rasanya menjadi apatis dengan apa yang terjadi saat ini. Tapi bagian dari diriku tidak bisa membiarkan orang lain untuk memutus harapannya. Mungkin saja mereka hanya sekedar ingin berteman. Mungkin saja mereka hanya ingin ...

Bukan Senyum Konotatif

Hari ini aku identikkan senyuman dengan tingkat kebahagiaan seseorang. Entahlah hal itu muncul begitu saja, saat mata ini mulai terbuka di jelang siang ini. Saat matahari sudah bergeser dari timur, sejarak dua anak panah. Satu, dua, dan tiga hari lalu, senyum itu terperangkap pada bentuk absurd. Lengkung bibirku tak kurasakan buah manisnya. Lengkungnya hanya nampak bagus di permukaan. Sedangkan rasanya semakin kecut. Seperti buah blimbing yang tidak pernah kusuka. Menjadi hal yang klise tentunya, semuanya, hanya sedikit pengecualian dari sudut pandang waktu dan subyek. Segala macam perasaan sudah menjadi memori kolektif dari setiap apa yang ditangkap oleh manusia. Karena, meski tidak berikatan secara fisik, aku yakini manusia punya semacam penghubung seperti halnya lebah pekerja yang membuat sarangnya tanpa pernah melakukan pendidikan di bangku sekolah. Dari sini aku coba mencari jawaban dari apa yang sudah dirasakan dari orang lain. Tanpa perantara fisik, tanpa perantara kata da...

Tengu, Si Hewan Setia

Tengu, katanya seekor hewan penggigit yang setia dengan empunya. Ukuran hewan kecil ini 0.5-1 mm. Sulit sekali untuk melihatnya. Aku nulis ini bukannya ada masalah dengan si tengu, tapi gara-gara aku penasaran banget dengan yang namanya tengu. Soalnya kata orang tengu itu binatang paling kecil sedunia. Memang masih diragukan banget sih. Soalnya saingan si tengu itu cacing. Ada yang bilang binatang yang paling kecil tuh cacing. "Logikanya seperti ini, tengu itu kan binatang yang katanya paling kecil kan? padahal ada tengu cacingen. Nah,,, tahu sendiri kan?" Pendukung tengu pun tak kalah debat. "Cacing juga bisa tenguen. iyakan?" Perdebatan ini seperti perdebatan klasik antara duluan mana telur dengan ayam. Namun, bagiku aku lebih membela pendukung tengu daripada pendukung cacing. Ini berawal ketika tengu membuatku menang dalam adu tebak-tebakan. Lebih tepatnya tengu membuatku enggak gariing lagi, hehe... Dan inilah awal dari rasa penasaranku sama yang naman...

My Nama is Kucing

"My name is kucing.." Kucing, bukan nama sebenarnya. Tidak aneh saat kamu terbiasa dipanggil "kucing". Aku sendiri lupa kapan awal kali dipanggil dengan nama itu. Yang jelas waktu itu, dalam satu komunitas yang membuat hidupku lebih warna, sering kali ketika mengalami kemalangan pada diri ini, reflek mulut ini berbunyi 'KUCING....!!!'. Memang semacam umpatan untuk melampiaskan kekesalan. 'Saking' seringnya mulut terbiasa membunyikan kata 'kucing' inilah kenapa aku dipanggi 'Kucing'. Aku sih biasa-biasa aja dengan 'kucing' ini. Toh kucing itu manis, lucu dan menggemaskan, meski tidak semua orang sepakat. Karena aku tahu sendiri banyak orang yang takut sama bulu. Tapi entahlah, menurutku itu suatu kelainan. Bagaimana orang bisa takut dengan bulu yang bikin geli, aneh banget kan? Pernah suatu ketika aku dekatin seorang cewek. Dia penasaran banget kenapa aku dipanggil kucing. Ya jelas aja dengan refleks aku mengarang ce...