Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label perjalanan

Merasa Hidup di Car Free Day

Pagi tadi aku merasa terlahir ke dunia. Ketika kulihat sinar matahari pagi, yang warnanya kuning cerah, hangat, dengan udaranya yang dingin-dingin menyejukkan. Banyak orang dengan memakai pakaian trining, kaos, sepatu cat , naik sepeda, jalan, menuju ke satu arah alun-alun kota Jember. Sinar matahari itu menurun, memendekkan bayang-bayang pohon, gedung, rumah, dan bangunan lainnya yang menghalanginya dariku. Aku, di atas sepeda motor mengangkat tanganku setinggi mungkin untuk meraih sinarnya. Tanganku menghangat, saat sinarnya mulai mengenai ujung-ujung kukuku. Ada keceriaan mencoba membuncah dari dadaku, lantaran sensasi yang sudah lama tak kurasakan. Alun-alun kota, sedang berlangsung car free day. Kuparkir sepeda dan berjalan mengikuti arus manusia mengitari lapangan berbentuk lingkaran. Keceriaanku juga aku hembuskan ke setiap orang lewat gelagatku dan tablo-tablo layaknya seorang lakon dalam teater. Gerakan-gerakan "aneh" mengikuti instruktur senam di lapangan, ...

Idul Adha: Khotib yang tidak tahu permasahan perbedaan

Idul adha menjadi momen suci bagi kaum muslim sedunia. Seperti halnya hari raya idul fitri, hari ini menjadi waktu berkumpulnya keluarga dan kerabat-kerabat dekat. Mereka tidak sedikit yang berbeda faham, ideologi, dan pendapat. Namun, bagaimana yang akan terjadi jika ternyata ada orang yang mengklaim dirinya paling benar dan tidak menghargai pendapat orang lain? Tidak Seharusnya Membakar yang Lain [http://nietroozz.blogspot.com/2005_07_01_archive.html] Kemarin, saya pergi mengunjungi seorang kawan di Probolinggo. Hari itu bertepatan dengan hari Jum’at sekaligus menurut penanggalan qomariyah, adalah hari tarwiyah. Ada juga yang menyebutnya Arofah. Perbedaan penanggalan ini sudah umum terjadi. Dan banyak orang sudah mulai terbiasa dengan perbedaan tanggal-tanggal qomariyah. Seperti halnya hari raya idul fitri kemarin. Banyak orang tak lagi mempermasalahkannya. Mereka tetap menjalankan ibadahnya masing-masing, sesuai dengan keyakinan kelompoknya masing-masing. Hanya saja...

TV, Kipas Angin, dan Galon yang Lepas

Seperti biasa, ketika emosi meluap seperti ini aku sulit mengeluarkan beban pikiran. Aku cenderung akan diam lama. Wajah dan tubuhku semakin lemah, jika penyakit sedikit saja menyerang bisa-bisa aku akan terserang demam. Meski tidak pernah sampai opname, demam seperti ini membuatku harus istirahat total, untuk sehari penuh. Semoga saja menulis bisa menjadi alternatif obat. Hampir sebulan lalu, seorang teman bernama Nita, mengabari sesuatu yang membuat Macapat bisa tersenyum sangat lebar. Dia mengatakan bahwa kakak sepupunya akan memberikan TV, kipas angin, dan galon untuk Macapat secara cuma-cuma. Barang-barang itu akan melengkapi fasilitas Macapat dan dalam bayanganku sendiri Macapat akan menjadi lebih nyaman. Di lain sisi memang Macapat masih sangat kekurangan biaya. Namun untuk mendapatkan barang-barang itu kami harus mengambilnya ke Surabaya. Jarak Jember kesana memakan waktu 5 jam. Untuk mengambil barang-barang itu pun kami harus membawa mobil. Kalau naik kendaraan umum b...

(Bukan) Monumen Gumuk Kerang

Perjalanan Para Pemuda Penantang Matahari Bagian #2 Menjejak tanah siang pada bulan puasa bagaikan melangkah di atas bara api. Diperlukan keyakinan dan ketabahan untuk berdamai dengan memori kepala. Yang selalu percaya bahwa matahari jam dua siang akan membakar kulitmu, menguras energimu, apalagi kondisi puasa yang penuh dengan batasan. Ini bukan soal tujuan tawaran keindahan alam di puncak Gumuk Kerang, tapi ini soal keyakinan dalam memegang prinsip. Dari buaian kampus, saya, Ulil, dan Budi meneruskan perjalanan melintas tembok Universitas Jember. Sebuah tembok yang seolah membatasi dan memberikan jarak antara civitas akademika dan warga sekitar kampus. Kontras terlihat antara di dalam dan di luar tembok. Rumah-rumah berderet tak beraturan dengan berdempetan, bahkan mungkin ketika dilihat dari atas seperti saling bertumpuk satu sama lain. Rumah-rumah itu, tembok, dan besarnya bangunan gedung kampus terlihat kontras. Mungkin hanya terlihat dari tampak luar saja, tapi terkadang...

Perjalanan Para Pemuda Penantang Matahari Bagian #1

“Bangun!” Sebuah teriakan dari dalam kepalaku menghujat tubuh ringkih yang terlalu manja. Baru hari itu teriakan itu begitu nyaring terdengar, setelah sebelumnya kalah dengan berbagai macam alasan-alasan. “Ah panas sedang puasa. Toh tidur saja dapat pahala. Kalaupun enggak kemana-mana aku juga masih tetep beraktifitas mengisi otakku dengan komentar-komentar dalam media sosial. Toh aku enggak apatis dengan dunia ini,” begitulah pledoi yang kerap tak kusadari sendiri betapa konyolnya diriku. Aku juga tidak menduga, ternyata teman sekotak ini rasanya juga merasakan hal yang sama. Ulil dan Budi, seakan berubah dari pemuda yang membangun mimpi, menjadi kaum yang ingin menantang matahari. Aku kira awalnya mereka hanya main-main saja dengan kata-katanya, “Ayok jalan-jalan! kita menjalankan proyek rahasia kita.” Perkiraanku salah. Mereka serius. “Dan hari ini akan berebeda,” pikirku. “Kita jalan sekarang. Ke gumuk kerang!” Ajak Ulil. “Yakin? Jauh lho,” kataku. “Ayolah, jarang-j...

Bukan Cerita

Jalan-jalan ke Lombok. Kedengarannya begitu asik bukan? Tahu sendirilah bagaimana rasanya. Terserah saudara mau membayangkan seperti apa. Iri? pastilah anda semua iri. Tapi sebaiknya anda tak usah ke sana. Saya tidak mau membicarakan seindah apa landscapenya. Karena dari sudut pandang yang sedikit diubah pastilah anda akan mendapatkan keindahan atau kepuasan bagi pikiran anda. Karena dunia ini adalah konstruk pikiran anda saja. Tidak lebih. Ketika melihat pantainya pastilah sama dengan pantai-pantai di setiap belahan bumi ini. Lebih indah atau lebih bersih? Itu hanya bagaimana seperti pepatah rumput tetangga pasti selalu terlihat lebih hijau. Namun saya percaya kalau setiap nama dari sebuah tempat akan terasa lebih istimewa dengan perlakuan yang juga istimewa. Duh, kenapa saya malas untuk bercerita tentang keindahan tempat? Sepertinya manusialah sebenarnya warna itu. Cerita-cerita hanya lahir dan tercipta untuk menemukan diri manusia sendiri dalam dunia ini. Waktu dan tempat hanyal...

Ekspresi Lahbako

Lah Bakoh , menjadi penyejuk di tengah gerung kendaraan di pagi hari. Saat manusia sibuk untuk mengisi detik nafas kehidupan. Lalu lalang mengincar lembar hijau daun emas yang tak lagi bisa tumbuh. Meski demikian, kesejukan itu hanya menjadi pengganggu di mata orang yang terombang-ambing oleh permainan penguasa. 

Catatan dalam Seminggu di Rumah

Pertama sampai dirumah, realitas kehidupan seketika menghadang. Seorang pemuda yang aku ditemui di masjid karanganyar tempat aku menunggu jemputan dari bapak bercerita bagaimana dia ditipu oleh seseorang yang menawarkan pekerjaan kepadanya. Bertemu pertama kali di alun-alun Demak saat si pemuda   selesai berziarah ke makam Sunan Kalijaga, se penipu yang perkataannya penuh dengan bumbu manis menjalankan aksinya. Dengan iming-iming gaji 800 ribu rupiah tiap bulan membuatnya merasa bahwa itu adalah sebuah harapan masa depannya. Sehingga apapun dia lakukan termasuk harus mengikuti semua perkataan yang diucapkan oleh orang yang menawarkan barang. Si pemuda disuruh pulang mengambil ijazah yag dia punya sekaligus membawa sepeda motor karena dia bilang di tempat kerja, di Kudus ada kemacetan lalulintas yang tidak memungkinkan kendaraan umum lewat. Si pemuda diberi uang 7ribu rupiah untuk pulang dan mengambil sepeda motor. Betapa senang hatinya, dia bersemangat untuk cepat-cepat kerj...