Langsung ke konten utama

Harapan Tahun Baru: Mengingat!

Setiap momen selalu kuanggap penting. Entah itu tahun baru, hari ulang tahun, apapun dari pemancang waktu yang menandakan sebuah peristiwa penting. Penting bagiku sendiri, dan penting bagi kebanyakan orang.

Disitu letaknya cermin. Bisa mengingat, lebih tepatnya diingatkan pada waktu-waktu yang dulu pernah berkesan.

Karena aku memang pelupa. Sering lupa dengan apa yang menjadi keinginanku sendiri. Bahkan sering diingatkan oleh orang lain.

Aku adalah orang yang beruntung. Banyak sekali orang yang mengingatkanku. Banyak juga aku diingatkan oleh waktu. Hingga momen kembali terulang dan memaknai kembali di waktu yang baru terjadi.

Seperti hari ini. Momen awal tahun yang sering kali digunakan untuk merefleksi hasil yang didapat di tahun lalu. Ada progres, stagnan, atau turun?

Tidak jarang yang punya semangat untuk berubah. Meski hanya angan-angan saja. Tidak jarang pula yang tidak peduli. Merasa dunia ini telah kejam tidak memberikan keuntungan kepadanya.

Ada juga jenis teman yang memang benar-benar tidak peduli. Teman seperti ini lah yang tidak pernah aku mengerti cara pandangnya. Bukan harapan yang menjadi bahan bakarnya. Sebaliknya, kekecewaan.

Mungkin benar ketika aku dibilang orang dengan karakter plegmatis. Orang yang jarang beradu argumen. Punya ruang kompromi luas, hingga kadang banyak hal aku lewatkan, dan sangat mudah mengalah.

Aku sangat berterima kasih telah ditunjukkan. Karena dengan hal itu, paling tidak satu persoalan dalam diriku sudah ku mengerti.

Tinggal kemudian beranjak untuk mencari keinginanku. Seorang teman lain bertanya dengan agak serius, yang intinya dia menanyakan rencana ke depanku.

Aku bilang aku tidak tahu persis. Hanya yang paling aku inginkan adalah untuk mulai berkarya.

Jawabanku ini sebenarnya membuatku berpikir ulang. Karya-karya yang telah aku buat, bukan karya untuk diriku. Itu karya dari tuntutan pekerjaan.

Kemudian aku mengatakan kepadanya, aku akan membuat buku. Enam bulan akan aku kerjakan. Setelahnya, aku tentukan kembali rencanaku.

Hari ini, sengaja ingin kudirikan pancang waktu. Momen untuk mengingatkanku saja. Mungkin nanti aku lupa. Karena aku baru saja punya keinginan untuk memperbaiki daya ingat. Tidak lagi diingatkan, tapi dari dalam diriku sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pertemuab Luka

Lama tak kucurahkan rasa dalam hati. Beberapa hari ini memang sangat terkungkung pada ruang persepsiku sendiri. Apa itu rasa? Sesuatu yang tak nyata menurutku. Tapi dia mengakibatkan ketidakenakan di bawah rongga dada. Itu Beberapa hari lalu. Lalu? Sekarang memang aku masih membatasinya untuk tidak masuk ke ruang rasa. Sakit. Ya, hanya itu yang akan terasa. Sebuah pertemuan. Sebuah pertemuan kembali terulang. Ketika menuliskan inipun aku merasa ada sesuatu yang tidak mau hilang. Ada semacam memory lama dengan sedikit bekas luka. Trauma? Mungkin saja. Jelas sekali aku masih belum bisa lepas. Saat itu terjadi, Batinku menolak untuk sebuah kata. "Menerima". Meski berbeda oknum. Dari sisi logika aku pikir semuaya ada pada pertemuan kemarin itu. Tapi kenapa selalu saja logika terus menerus kalah dengan rasa. Haha, lucu sekali. Seperti bukan diriku saja. Beginilah saat aku bebaskan emosi. Tangan-tanganku seakan merekam rasa dan menampilkannya dengan begitu sempurna. Seperti v...

Tiba-Tiba Datang Pertanyaan

Kembali aku ingin menuliskan sebuah ironi. Tiba-tiba beberapa saat lalu aku terdiam, mataku terpaku pada sebuah gundukan tanah setinggi 13 meter berselimut pepohonan dan semak, gumuk. Entah apa hubungannya semua itu, mulai dari aku terdiam, melamun, dan akhirnya berpikir antara mempertahankan demokrasi dan kebaikan. Jelasnya tiba-tiba saja pikiran itu muncul. Fakultas hukum, belum lama ini mengadakan pemilihan dekan. Dari jumlah senat yang memilih dua calon terbagi menjadi dua suara yang hampir sama, 11 pada calon pertama dan 10 pada calon kedua. Namun rektor menetapkan 10 suara yang menjadi dekan. Hal ini pun menurut rektor tidak lepas dari beberapa pertimbangan. Pertama karena dekan terpilih mempunyai tingkat akademik yang lebih tinggi, dan jumlah suara tersebut itu masih dianggap tidak begitu signifikan perbedaannya. Dari situlah timbul sebuah pertanyaan apakah memang demokrasi itu diambil dari suara terbanyak? Pastinya semua sudah ada persyaratan ketika sudah pada tahapan pem...

Kematianku

Minggu ini dan untuk minggu selanjutnya aku sadar, aku telah mati. Kematian ini kusengaja untukku pelajari betapa benar-benar mati itu sesuatu yang sangat tidak mengenakkan. Kamu akan merasa kosong, kamu akan merasa segala sempit dan gelap, dan kamu akan merasakan tubuhmu berat surit untuk digerakkan. Begitulah yang terasa saat ini, saat kematianku ini. Keresahanku ternyata menjalar pada teman sekotak. Kotak kecil berukuran 4 X 4 meter itu juga merasakan apa yang aku rasa. Kematian ternyata menjalar. Ternyata seperti penyakit menular yang bisa menular ke setiap orang di sekitar. Jika mungkin diriku sendiri tidak apa lah, tapi kenyataannya aku malah juga menyengsarakan orang lain. Dari situ aku sedikit ingin mempercepat kematianku. Aku tidak ingin orang lain yang berada di sekitarku ikut-ikutan mati tanpa mereka sadari bahwa kematian juga harus dipelajari. Seperti sekarang ini. Seperti waktu-waktu yang mengikis dada dan emosiku sendiri. Berbagai macam peristiwa aku pantau dan satu...