Langsung ke konten utama

Berguru Cinta

Rindu malam menggapai kelopak mataku pada bintang-bintang yang temaram. Detik waktu selalu hilang dari hidup, meski sadar seakan berkuasa. Ingin ku berguru pada Majnun, sang pecinta sejati. Desah helaan nafasnya selalu memuja sang kekasih. Hidup dalam cinta, hingga konon dunia tak mampu menjadi wadah cintanya.
Duhai kasih, beribu detik waktu ku melupakanmu. Sudikah kau memaafkanku yang telah menghianati cintaku. Seharusnya pantang bagi sang pecinta untuk sedetikpun berpaling. Lihatlah Majnun yang selalu melihat dan memuja kekasihnya. Udara kosong selalu menjadi wahana untuk menyampaikan rindu dan asmaranya. Kamu tahu sayang apa yang dia katakan pada rembulan dan malam?

" Rembulan pun akan malu saat kekasihku datang,
wahai malam yang merindu, takkan pernah ada lagi pembeda antara kau dan kekasihku
gelapmu bagaikan rambut hitamnya yang terurai
gemerlap bintang yang engkau sajikan selayaknya senyum manis dari bibirnya, pesona keindahan semesta alam
jika ia tersenyum semua orang akan tidur dengan mimpi terindah
lembut pipinya adalah surga bagi semua makhluk yang merindukan tempat tinggal, tempat untuk kembali merasakan kenyamanan dalam lindungan, kelembutan dan kehangatan,"

Begitulah yang ingin ku sampaikan padamu sayang. Rinduku menyertai angin malam yang dingin. Hingga akan kaudapatkan dalam kehangatan bersama tidurmu.


23 Juni 2012
untuk kekasihku yang kurindu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pertemuab Luka

Lama tak kucurahkan rasa dalam hati. Beberapa hari ini memang sangat terkungkung pada ruang persepsiku sendiri. Apa itu rasa? Sesuatu yang tak nyata menurutku. Tapi dia mengakibatkan ketidakenakan di bawah rongga dada. Itu Beberapa hari lalu. Lalu? Sekarang memang aku masih membatasinya untuk tidak masuk ke ruang rasa. Sakit. Ya, hanya itu yang akan terasa. Sebuah pertemuan. Sebuah pertemuan kembali terulang. Ketika menuliskan inipun aku merasa ada sesuatu yang tidak mau hilang. Ada semacam memory lama dengan sedikit bekas luka. Trauma? Mungkin saja. Jelas sekali aku masih belum bisa lepas. Saat itu terjadi, Batinku menolak untuk sebuah kata. "Menerima". Meski berbeda oknum. Dari sisi logika aku pikir semuaya ada pada pertemuan kemarin itu. Tapi kenapa selalu saja logika terus menerus kalah dengan rasa. Haha, lucu sekali. Seperti bukan diriku saja. Beginilah saat aku bebaskan emosi. Tangan-tanganku seakan merekam rasa dan menampilkannya dengan begitu sempurna. Seperti v...

Tiba-Tiba Datang Pertanyaan

Kembali aku ingin menuliskan sebuah ironi. Tiba-tiba beberapa saat lalu aku terdiam, mataku terpaku pada sebuah gundukan tanah setinggi 13 meter berselimut pepohonan dan semak, gumuk. Entah apa hubungannya semua itu, mulai dari aku terdiam, melamun, dan akhirnya berpikir antara mempertahankan demokrasi dan kebaikan. Jelasnya tiba-tiba saja pikiran itu muncul. Fakultas hukum, belum lama ini mengadakan pemilihan dekan. Dari jumlah senat yang memilih dua calon terbagi menjadi dua suara yang hampir sama, 11 pada calon pertama dan 10 pada calon kedua. Namun rektor menetapkan 10 suara yang menjadi dekan. Hal ini pun menurut rektor tidak lepas dari beberapa pertimbangan. Pertama karena dekan terpilih mempunyai tingkat akademik yang lebih tinggi, dan jumlah suara tersebut itu masih dianggap tidak begitu signifikan perbedaannya. Dari situlah timbul sebuah pertanyaan apakah memang demokrasi itu diambil dari suara terbanyak? Pastinya semua sudah ada persyaratan ketika sudah pada tahapan pem...

Kematianku

Minggu ini dan untuk minggu selanjutnya aku sadar, aku telah mati. Kematian ini kusengaja untukku pelajari betapa benar-benar mati itu sesuatu yang sangat tidak mengenakkan. Kamu akan merasa kosong, kamu akan merasa segala sempit dan gelap, dan kamu akan merasakan tubuhmu berat surit untuk digerakkan. Begitulah yang terasa saat ini, saat kematianku ini. Keresahanku ternyata menjalar pada teman sekotak. Kotak kecil berukuran 4 X 4 meter itu juga merasakan apa yang aku rasa. Kematian ternyata menjalar. Ternyata seperti penyakit menular yang bisa menular ke setiap orang di sekitar. Jika mungkin diriku sendiri tidak apa lah, tapi kenyataannya aku malah juga menyengsarakan orang lain. Dari situ aku sedikit ingin mempercepat kematianku. Aku tidak ingin orang lain yang berada di sekitarku ikut-ikutan mati tanpa mereka sadari bahwa kematian juga harus dipelajari. Seperti sekarang ini. Seperti waktu-waktu yang mengikis dada dan emosiku sendiri. Berbagai macam peristiwa aku pantau dan satu...