Langsung ke konten utama

Ternyata Buahku Beracun

Tersentil pertanyaan yang dulu pernah terbuang ke udara kosong
tak ubahnya keadaan sekarang, masih tetap saja udara kosong yang menganga
sedikit ingin ku tahan, namun malah bibit panas keluar menjumbul dalam dada
tumbuhan parasit yang akan menggerogoti pohon buahku yang telah lama ku pupuk
akankah kuganti dengan pohon lain ataukah harus ku pertahankan

aku pikir pohon ini akan berbuah manis,
tak kusangka hanya peluh dan keringat terbuang sia-sia
ternyata pohon ini menyimpan racun yang dapat membuatku mati dalam sekejap
apakah harus ku perkuat sistem imun tubuhku untuk menahan gejolak yang akan datang
namun aku juga tak yakin mampu menahan serangan racun itu

aku pikir aku bukan seorang egois yang akan memberikan racun kepada orang lain
biasanya  aku berpikir biarlah aku saja yang menderita dari pada orang lain yang akan menderita
biarlah aku saja yang menanggung hasil dari perbuatanku yang telah menumbuhkan pohon berbahaya ini
mungkin sudah menjadi nasibku untuk tidak mendapatkan buah yang manis


akan aku nikmati detik-detik penderitaanku bersama pohon yang kini sudah mulai berbuah
semoga senyumku terlihat natural dan bisa memberikan kasih sayang pada pohon ini
toh nantinya juga pohon ini akan tumbang saat musim kemarau datang

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mulai Tulis "Aku"

Aku baru ingat, aku jarang sekali menulis kata "aku". Dari hari ke hari, aku selalu menulis. Namun kata ganti pertama itu, selalu aku jauhi. Malah semakin jauh dari menulis kata aku, semakin lebih baik. Tidak adanya kata aku dalam tulisanku hanyalah sebuah keharusan semata. Pekerjaan memaksaku untuk menjadi orang lain. Aku tidak bisa mengemukakan pendapatku sendiri, meski aku yang menuliskannya.  Tapi persoalan larangan menulis aku secara eksplist maupun implisit, masih dalam perdebatan. Sebenarnya bisa saja, aku menulis tanpa menyertakan kata aku, tapi itu adalah aku. Hanya konteksnya berbeda. Aku dalam "aku" dan aku dalam kalimat-kalimat penunjang aku berbeda fungsi. Ah, semakin rumit saja. Seorang kawan bertanya, "Terus bagaimana kabarmu? Ceritalah" Pertanyaan itu membuatku agak bingung. Apakah memang sebenarnya aku butuh untuk cerita tentang aku? Sedangkan aku sendiri tidak pernah menginginkan untuk kuketahui sendiri bagaimana aku ini. ...

Tiba-Tiba Datang Pertanyaan

Kembali aku ingin menuliskan sebuah ironi. Tiba-tiba beberapa saat lalu aku terdiam, mataku terpaku pada sebuah gundukan tanah setinggi 13 meter berselimut pepohonan dan semak, gumuk. Entah apa hubungannya semua itu, mulai dari aku terdiam, melamun, dan akhirnya berpikir antara mempertahankan demokrasi dan kebaikan. Jelasnya tiba-tiba saja pikiran itu muncul. Fakultas hukum, belum lama ini mengadakan pemilihan dekan. Dari jumlah senat yang memilih dua calon terbagi menjadi dua suara yang hampir sama, 11 pada calon pertama dan 10 pada calon kedua. Namun rektor menetapkan 10 suara yang menjadi dekan. Hal ini pun menurut rektor tidak lepas dari beberapa pertimbangan. Pertama karena dekan terpilih mempunyai tingkat akademik yang lebih tinggi, dan jumlah suara tersebut itu masih dianggap tidak begitu signifikan perbedaannya. Dari situlah timbul sebuah pertanyaan apakah memang demokrasi itu diambil dari suara terbanyak? Pastinya semua sudah ada persyaratan ketika sudah pada tahapan pem...

Pertemuab Luka

Lama tak kucurahkan rasa dalam hati. Beberapa hari ini memang sangat terkungkung pada ruang persepsiku sendiri. Apa itu rasa? Sesuatu yang tak nyata menurutku. Tapi dia mengakibatkan ketidakenakan di bawah rongga dada. Itu Beberapa hari lalu. Lalu? Sekarang memang aku masih membatasinya untuk tidak masuk ke ruang rasa. Sakit. Ya, hanya itu yang akan terasa. Sebuah pertemuan. Sebuah pertemuan kembali terulang. Ketika menuliskan inipun aku merasa ada sesuatu yang tidak mau hilang. Ada semacam memory lama dengan sedikit bekas luka. Trauma? Mungkin saja. Jelas sekali aku masih belum bisa lepas. Saat itu terjadi, Batinku menolak untuk sebuah kata. "Menerima". Meski berbeda oknum. Dari sisi logika aku pikir semuaya ada pada pertemuan kemarin itu. Tapi kenapa selalu saja logika terus menerus kalah dengan rasa. Haha, lucu sekali. Seperti bukan diriku saja. Beginilah saat aku bebaskan emosi. Tangan-tanganku seakan merekam rasa dan menampilkannya dengan begitu sempurna. Seperti v...