Langsung ke konten utama

Postingan

Tiba-Tiba Datang Pertanyaan

Kembali aku ingin menuliskan sebuah ironi. Tiba-tiba beberapa saat lalu aku terdiam, mataku terpaku pada sebuah gundukan tanah setinggi 13 meter berselimut pepohonan dan semak, gumuk. Entah apa hubungannya semua itu, mulai dari aku terdiam, melamun, dan akhirnya berpikir antara mempertahankan demokrasi dan kebaikan. Jelasnya tiba-tiba saja pikiran itu muncul. Fakultas hukum, belum lama ini mengadakan pemilihan dekan. Dari jumlah senat yang memilih dua calon terbagi menjadi dua suara yang hampir sama, 11 pada calon pertama dan 10 pada calon kedua. Namun rektor menetapkan 10 suara yang menjadi dekan. Hal ini pun menurut rektor tidak lepas dari beberapa pertimbangan. Pertama karena dekan terpilih mempunyai tingkat akademik yang lebih tinggi, dan jumlah suara tersebut itu masih dianggap tidak begitu signifikan perbedaannya. Dari situlah timbul sebuah pertanyaan apakah memang demokrasi itu diambil dari suara terbanyak? Pastinya semua sudah ada persyaratan ketika sudah pada tahapan pem...

Pertemuab Luka

Lama tak kucurahkan rasa dalam hati. Beberapa hari ini memang sangat terkungkung pada ruang persepsiku sendiri. Apa itu rasa? Sesuatu yang tak nyata menurutku. Tapi dia mengakibatkan ketidakenakan di bawah rongga dada. Itu Beberapa hari lalu. Lalu? Sekarang memang aku masih membatasinya untuk tidak masuk ke ruang rasa. Sakit. Ya, hanya itu yang akan terasa. Sebuah pertemuan. Sebuah pertemuan kembali terulang. Ketika menuliskan inipun aku merasa ada sesuatu yang tidak mau hilang. Ada semacam memory lama dengan sedikit bekas luka. Trauma? Mungkin saja. Jelas sekali aku masih belum bisa lepas. Saat itu terjadi, Batinku menolak untuk sebuah kata. "Menerima". Meski berbeda oknum. Dari sisi logika aku pikir semuaya ada pada pertemuan kemarin itu. Tapi kenapa selalu saja logika terus menerus kalah dengan rasa. Haha, lucu sekali. Seperti bukan diriku saja. Beginilah saat aku bebaskan emosi. Tangan-tanganku seakan merekam rasa dan menampilkannya dengan begitu sempurna. Seperti v...

Refleki diri

Dengan apa aku bicara dengan apa aku bekerja. Entah sudah berapa minggu tidak kugerakkan tanganku untuk menancapkan perasasti di atas tanah maya ini. sebuah bentuk elegy yang menjadi nisan dalam mayat-mayat orang yang mati suri. Sadar, kesadaran apa yang harus selalu dapat menggerakkan semua organ. Semua tertempel dengan perekat pikiran. Dengan alam sebagai obyek dan juga diri sebagai obyek. Selalu tersubordinat dalam bentang khayalan yang tidak pasti. Kerja-kerja organpun tersia dari batas fisik yang tak mampu menembus imaji. Tak pernah turun menjadi kenyataan yang bisa dipegang ataupun sekedar diingat. Semakin tidak jelas dengan semakin jelasnya posisi. Memang tiadanya keseimbangan mangacau fokus di dalam ataupun di luar. Semua kabur hanya tertinggal pikiran hampa. Kosong. Namun begitu banyak sampah berserakan di dalamnya.

Kucingku Seharga Pulau

 Kau sebut ini apa, jika ternyata kucing piaraanmu seharga pulau kecil yang diperebutkan oleh semua orang. Setiap hari kau mengelus kucing itu bukan karena kucing itu seharga pulau, tapi karena kau hanya suka dengan yang namanya kucing. Setelah kau tahu ternyata harganya senilai pulau? Akankah kau menyembunyikannya dan memperlakukannya berbeda? Menempatkannya pada sangkar emas, memberikannya makanan mahal, memandikannya setiap hari, dan memanjakannya layaknya seorang kekasih? Tidak kutemukan malam sebelumnya yang banyak dibicarakan oleh para orang dengan kebijaksanaan filusuf atau para guru kerohanian. Malam-malamku tetap dengan kopi dan lingkaran manusia-manusia yang mencari kehidupan di tengah bergelimpangannya tubuh-tubuh dengan mata terpejam tanpa kesadaran. Terbujur dalam kenyamanan dan perlindungan dari berbagai macam acaman. Udara malam, gigitan nyamuk, lelah, kantuk, lapar, suara-suara bising, dan semua yang mengancam kenyamanan. Memeluk erat guling dan menyangga...

Surat Cintaku

Kurasakan sebuah kehilangan. Harapan akan sebuah cinta lenyap. Tak ada yang bisa aku ungkapkan selain hanya kesedihan dan perihnya luka hati ini. Kau, sampai saat ini pun tidak bisa aku pahami, kenapa tak kau ijinkan lagi cintaku menggapai hatimu? Sebenarnya masih ingin ku besarkan harapanku. Ingin sekali bayangmu selalu ku dekap rapat. Aku masih bertanya-tanya mengapa cinta yang dulu pernah kau akui, kini tak lagi kau rasakan? Apakah cinta memang bisa hilang? Akh. Sebenarnya aku sudah tak kuasa menahan perih hati ini. Tak kuasa aku memikirkanmu lagi. Ingin kulupakan semua kenangan bersamamu, tapi kuakui rasaku terhadapmu masih sangat kuat. Aku takut melepas cinta yag lama aku bangun. Tulisan ini, bukan untuk melupakanmu. Tulisan ini adalah wujud ketidakmampuanku dalam menghadapi besarnya rasaku. Aku masih cinta dan akan selalu sayang padamu. Cinta memang mengisi kehidupan dengan penderitaan.

Rayuan Tanpa Kata...

kata tidak lagi bersahabat dengan imaji mungkin saja dia cemburu terhadap kedekatanku dengan bantal kenyamanan yang membuai mimpi pintu kemana sajanya doraemon dalam dunia nyata seorang bijak berkata "jangan kebanyakan mimpi, nanti kalo bangun kecewa" masa bodohlah, inseption telah memperdaya minatku sekalian saja hidup di alam mimpi menjadi pencipta ...  ...  ... bayangkan kamu punya rumah besar di pinggir pantai seorang istri cantik menyiapkan kopi dan gorengan di meja teras sun rise....tidak ada kata yang bisa terucap.... lihat itu disampingmu, istrimu terlihat lebih lezat dari kopi dan gorengan lagi-lagi rayuan tanpa kata tak mampu kamu tolak ...  ...  ... sudah tak ada lagi kata yang lebih menarik lihat saja tubuh elok nan erotis hemm hembusan udara memanas ajakan tak berkata lebih kuat dan mengikat....

Tengu, Si Hewan Setia

Tengu, katanya seekor hewan penggigit yang setia dengan empunya. Ukuran hewan kecil ini 0.5-1 mm. Sulit sekali untuk melihatnya. Aku nulis ini bukannya ada masalah dengan si tengu, tapi gara-gara aku penasaran banget dengan yang namanya tengu. Soalnya kata orang tengu itu binatang paling kecil sedunia. Memang masih diragukan banget sih. Soalnya saingan si tengu itu cacing. Ada yang bilang binatang yang paling kecil tuh cacing. "Logikanya seperti ini, tengu itu kan binatang yang katanya paling kecil kan? padahal ada tengu cacingen. Nah,,, tahu sendiri kan?" Pendukung tengu pun tak kalah debat. "Cacing juga bisa tenguen. iyakan?" Perdebatan ini seperti perdebatan klasik antara duluan mana telur dengan ayam. Namun, bagiku aku lebih membela pendukung tengu daripada pendukung cacing. Ini berawal ketika tengu membuatku menang dalam adu tebak-tebakan. Lebih tepatnya tengu membuatku enggak gariing lagi, hehe... Dan inilah awal dari rasa penasaranku sama yang naman...