Selasa, 17 Mei 2016

Teruslah Bercerita!

Kau yang semestinya jadi kekasihku...
Aku teringat dengan tulisan Pram dalam sebuah novelnya, Anak Semua Bangsa. Jika kau belum membaca bukunya, boleh kan jika aku ceritakan sekilas saja? Katamu kau suka mendengar ceritaku dengan detail. Kau tak suka jika aku hanya mengatakan, "Ceritanya bagus!" "Sama saja bohong," katamu kemudian, dan meminta pertanggungjawabanku.
Begitu juga dengan aku. Aku suka saat kau bercerita dan membuatku tertawa. Kali ini aku ingin bercerita untukmu. Karena entah kapan lagi aku bisa bercerita seperti dulu.
Dalam salah satu bab, Minke, tokoh utama novel tersebut tengah mengalami kesedihan. Kekasihnya, Annelis, direbut oleh orang yang mengklaim adalah keluarganya. Padahal kau tahu, Annelis adalah anak seorang bangsawan Belanda dengan seorang Nyai Jawa. Saat ayahnya meninggal, orang Belanda yang masih punya darah dengan ayahnya, meminta Annelis sebagai ahli waris untuk dibawa ke Belanda. Sedangkan Nyai Jawa, dianggap bukan siapa-siapa. Padahal dialah yang melahirkan dan membesarkan Annelis.
Tapi, saat itu hukum seperti halnya sekarang hanya berpihak pada orang besar. Apalagi bangsawan Belanda, yang menciptakan hukum untuk melindungi kepentingan mereka sendiri. Annelis pun dibawa dengan paksa ke Belanda. Meinggalkan Minke, dan ibunya.
Tidak hanya Minke dan sang Nyai yang sedih. Annelis jauh lebih sedih, sampai dia mengalami shock yang berpengaruh ke mentalnya. Annelis jatuh sakit pada waktu perjalanan ke Belanda. Jangan kau bayangkan waktu itu sama dengan sekarang. Waktu itu, belum ada pesawat terbang komersil. Sehingga Annelis harus menempuh jalur laut yang begitu panjang.
Kondisi perjalan yang sangat jauh membuat tubuh Annelis semakin lemah. Diapun meninggal sesaat setelah sampai di Belanda. Tragisnya lagi orang yang mengaku keluarganya sama sekali tidak menghiraukan Annelis. Bahkan, Annelis tidak dimakamkan dengan layak.
Kau bisa bayangkan bagaimana perasaan Minke dan sang Nyai kan? Seorang kekasih dan anak direbut untuk dibunuh. Bayangkan betapa kesedihan itu mengganggu jiwa dan mental Minke.
Dalam suasan berkabung itulah Minke harus tetap hidup. Traumatik dengan Belanda dan ketidakberdayaan Jawa membuatnya malah membenci Jawa. Padahal, Minke sendiri adalah seorang anak Bupati yang seratus persen Jawa. Jawa Totok.
Minke termasuk orang yang beruntung. Dia berkesempatan menempuh pendidikan Eropa. Yang saat itu menjadi pusat peradaban tidak hanya di Jawa, tapi dunia. Semua orang pribumi sangat segan melihat Minke yang selalu berpakaian Eropa, apalagi dia juga terpelajar.
Dalam kesehariannya, Minke dikenal sebagai penulis. Dia rajin menulis di koran internasional. Tulisannya dibaca oleh banyak orang. Khususnya adalah orang-orang yang bisa bahasa Belanda. Karena, Minke hanya mau menulis dengan bahasa itu.
Sudah terpatri dalam kepalanya, semua yang berbau Eropa adalah hebat. Dia ingin agar para pribumi mengikuti gaya hidup orang Eropa yang modern, berpendidikan. Sehingga pribumi bisa lebih beradab.
Dengan tulisannya dalam bahasa Belanda itu, Minke menceritakan semua yang dialaminya. Diapun mendapat banyak dukungan dari orang-orang Eropa. Tapi semua itu percuma, Annelis sudah tidak bisa kembali.
Entah seperti apa penafsiran orang lain yang membaca cerita itu. Tapi menurutku Minke egois. Dia hanya mementingkan dirinya sendiri. Dia menulis hanya untuk simpati dari orang Eropa. Tidak ada dalam pikirannya, sesama pribumi dapat membantunya. Secara tidak langsung dia juga merendahkan pribumi.
Kemudian datang seorang Eropa lain. Namanya Kommer, seorang jurnalis dari koran lokal Surabaya. Dia orang yang yakin bahwa pribumi bisa bangkit. Kommer melihat hal itu dalam diri orang-orang seperti Minke. Hanya saja, kebanyakan orang-orang seperti Minke selalu menganggap Eropa lebih superior.
Kommer mencoba mengubah sudut pandang Minke. "Menulislah dengan bahasa ibumu. Agar pribumi lain punya harapan untuk bangkit," katanya. Bahkan Kommer menyindir dengan begitu keras kepada Minke, "Kamu tidak kenal bangsamu sendiri!"
Tapi untuk mengubah persepsi seseorang sangatlah sulit. Minke pun demikian. Minke marah besar saat dibilang tidak mengenal bangsanya sendiri. Namun kata-kata itu selalu dipikirkannya. Dia kemudian merasakan juga apa yang dimaksud oleh Kommer. Dia memang benar-benar tidak begitu mengenal dengan bangsanya sendiri.
Kesepakatan pikiran Minke itu ditemukannya saat suatu hari dia bertemu dengan seorang petani yang rumahnya berada di tengah-tengah kebun tebu. Minke menemukan realitas yang sebelumnya tidak pernah dia baca dalam buku-buku Eropa.
Trnodongso, nama petani itu punya sebidang tanah dan rumah di tengah kebun tebu. Sedikit demi sedikit tanahnya dirong-rong oleh pabrik tebu milik kompeni. Pabrik bahkan menggunakan cara-cara licik agar tanah Trunodongso itu bisa diambil alih. Yaitu melalui orang-orang pribumi sendiri, terutama kepala desa.
Jika tidak mau menyewakan tanahnya, Trunodongso akan dilemahkan dengan berbagai cara. Lewat saluran irigasi yang diputus, lewat akses jalan yang diputus, bahkan lewat kekerasan. Tapi Trunodongso tetap tidak mau menyewakannya. Apalagi harga sewa sangat kecil. Untuk satu bahu, hanya bisa dimakan untuk sebulan saja. Trunodongso adalah satu-satunya petani yang menolak menyewakan tanahnya. Kemampuan beladirinya yang membuatnya tetap mampu bertahan.
Minke menemukan Trunodongso karena melihat ada keganjilan di kebun tebu saat dia pergi jalan-jalan. Saat itu, Trunodongso sedang mengusir orang-orang yang memaksanya menyewakan tanah. Penasaran, dan tertantang untuk mengetahui secara langsung bangsanya sendiri, Minke mendekatinya.
Demi membuktikan dia juga bisa mengenali bangsanya Minke maju. Meski tatapan merah mata Trunodongso mengancam. Apalagi Trunodongso sedang membawa senjata tajam. Dengan sangat hati-hati dia mencoba berbicara kepada Trunodongso. "Aku bukan bagian dari mereka. Aku kesini hanya ingin tahu persoalanmu. Mungkin bisa membantu," kata Minke merayu Trunodongso.
Akhirnya Trunodongso pun luluh. Dia menerima Minke, dan kesempatan itu dimanfaatkan Minke mengetahui apa yang menjadi masalah petani tersebut.
Dua hari Minke menginap di sana. Dia mendapatkan cerita-cerita yang tidak pernah dia dengar sebelumnya. Intinya, semua petani pemilik lahan yang lahannya disewakan kepada pabrik tidak mendapat ganti yang sesuai. Sementara para mendor dan pejabat pabrik hidup mewah.
Minke pun menuliskan semua kisah itu. Dia mengakui dia memang belum mengenal bangsanya sendiri...
Aku ingin bercerita lebih panjang lagi. Jika cerita ini selesai, akan kulanjutkan dengan cerita-cerita lainnya. Tapi apakah kau mau terus mendengarkan cerita-ceritaku? Ahhh......
Tapi mungkin lebih baik kau mulai membaca ceritanya sendiri. Kau punya cara baca sendiri yang berbeda dengan cara pandangku. Kau ungkapkan itu semalam tadi.
Kau yang semestinya jadi kekasihku. Aku ingin terus bercerita dan terus mendengar ceritamu....

Jumat, 01 Januari 2016

Harapan Tahun Baru: Mengingat!

Setiap momen selalu kuanggap penting. Entah itu tahun baru, hari ulang tahun, apapun dari pemancang waktu yang menandakan sebuah peristiwa penting. Penting bagiku sendiri, dan penting bagi kebanyakan orang.

Disitu letaknya cermin. Bisa mengingat, lebih tepatnya diingatkan pada waktu-waktu yang dulu pernah berkesan.

Karena aku memang pelupa. Sering lupa dengan apa yang menjadi keinginanku sendiri. Bahkan sering diingatkan oleh orang lain.

Aku adalah orang yang beruntung. Banyak sekali orang yang mengingatkanku. Banyak juga aku diingatkan oleh waktu. Hingga momen kembali terulang dan memaknai kembali di waktu yang baru terjadi.

Seperti hari ini. Momen awal tahun yang sering kali digunakan untuk merefleksi hasil yang didapat di tahun lalu. Ada progres, stagnan, atau turun?

Tidak jarang yang punya semangat untuk berubah. Meski hanya angan-angan saja. Tidak jarang pula yang tidak peduli. Merasa dunia ini telah kejam tidak memberikan keuntungan kepadanya.

Ada juga jenis teman yang memang benar-benar tidak peduli. Teman seperti ini lah yang tidak pernah aku mengerti cara pandangnya. Bukan harapan yang menjadi bahan bakarnya. Sebaliknya, kekecewaan.

Mungkin benar ketika aku dibilang orang dengan karakter plegmatis. Orang yang jarang beradu argumen. Punya ruang kompromi luas, hingga kadang banyak hal aku lewatkan, dan sangat mudah mengalah.

Aku sangat berterima kasih telah ditunjukkan. Karena dengan hal itu, paling tidak satu persoalan dalam diriku sudah ku mengerti.

Tinggal kemudian beranjak untuk mencari keinginanku. Seorang teman lain bertanya dengan agak serius, yang intinya dia menanyakan rencana ke depanku.

Aku bilang aku tidak tahu persis. Hanya yang paling aku inginkan adalah untuk mulai berkarya.

Jawabanku ini sebenarnya membuatku berpikir ulang. Karya-karya yang telah aku buat, bukan karya untuk diriku. Itu karya dari tuntutan pekerjaan.

Kemudian aku mengatakan kepadanya, aku akan membuat buku. Enam bulan akan aku kerjakan. Setelahnya, aku tentukan kembali rencanaku.

Hari ini, sengaja ingin kudirikan pancang waktu. Momen untuk mengingatkanku saja. Mungkin nanti aku lupa. Karena aku baru saja punya keinginan untuk memperbaiki daya ingat. Tidak lagi diingatkan, tapi dari dalam diriku sendiri.

Kamis, 17 Desember 2015

Bukan Pertama Mengenal Pagi

Hari ini ada bersitan kuat dalam kepala untuk segera mengubah diri. Bangun setengah lima pagi. Mandi. Solat subuh. Menyiapkan sepatu, dan lari. 

Aku merasakan kakiku sangat ringan. Dengan jaket dan celana pendek, langkah kakiku kupercepat. Namun aku masih malas untuk mendengar hiruk pikuk yang ada di sekitar. Aku pasang headset ke telinga. Kudengarkan radio pagi dengan isi acara yang tanpa banyak pilihan. Berita AS, kuliah subuh, dan lagu religi.

Berkali-kali aku pindah saluran radio, tetap tiga jenis acara itu yang terdengar. Akhirnya aku pilih saluran berita dari VOA. Khas berita yang menggemakan nama Amerika, teroris, dan kekuasaan Amerika di Asia.

Kejengkelanku itu malah mendorongku untuk terus lari. Satu blok aku lewati, kemudian belok ke selatan menuju pasar Baru di jalan Gubernur Suryo Lumajang. Aku tetap memilih jalur lurus sampai satu blok kemudian aku belok kanan.

Asap kendaraan sangat terasa. Padahal kendaraan pagi itu masih sedikit. Kontras sekali dengan di siang hari seperti biasanya. Tapi tak aku hiraukan. Aku pikir udara pagi masih terlalu bersih dari cemaran dua atau tiga kendaraan.

Aku heran sendiri, kenapa aku belum nampak lelah. Padahal, sudah satu kilo aku berlari. Lagi-lagi aku merasakan keanehan di pagi ini. Tapi aku tetap melanjutkan berlari. Arah pertama ke GOR Wirabhakti di jantung kota Lumajang.

Sampai di sana, aku belum merasa lelah. Aku mulai melakukan peregangan. Push up, sit up, dan back up. Gerakan itu sederhana, tapi butuh menghalau rasa malas yang luar biasa. Kemalasan itulah yang membuat beban tubuh berkali lipat beratnya.

Sepuluh menit kemudian, aku kembali berlari. Di pojok bagian timur Gor aku lihat sebuah alat pull up. Waktu aku dekati ada seorang laki-laki sekitar 28 tahun mengajak dua anak kecil. Dibopongnya salah satunya kemudian dipegangkan ke alat pull up itu.

Jelas aku tidak mau mengganggu. Aku berubah pikiran dan meneruskan lari mengitari Gor. Sekitar duapuluh paruh baya dari golongan tionghoa sedang senam di depanku. Aku merasa sedikit mendapatkan pehatian mereka. Tidak aku hiraukan. Aku teruskan mengitari Gor itu.

Di titik dekat alat pull up untuk yang kedua kalinya itu aku berhenti. Dua anak kecil dan satu orang laki-laki tadi sudah menjauh. Aku mulai menggunakan alat itu. Berat. Saat aku angkat tubuhku, tiba-tiba dadaku sesak. Mataku berkunang-kunang. Aku tidak memaksakan diri. Aku turun, kemudian menurunkan kepalaku dalam posisi seperti rukuk. 

Mungkin saat aku naik pull up itu, darahku tidak ikut naik. Hingga aliran darah di otak sedikit tehambat. Aku merasakan nafasku juga terengah-engah.

Dalam posisi rukuk itu, aku dapatkan kembali keseimbangan tubuhku. Aku ulangi lagi pull up. Hanya saja, dua anak tadi begitu melihatku langsung mendekat dan ingin ikut bermain dan bergelayutan. Aku mengalah dan melanjutkan lariku kembali pulang. 

Dari Gor aku mau langsung pulang dan istirahat. Tapi ada sedikit lagi dorongan untuk lebih lama lagi berkenalan dengan pagi. Karena catatan setiap hariku, selalu melewatkan pagi. Itulah keajaiban yang sebenarnya. 

Mulai Tulis "Aku"

Aku baru ingat, aku jarang sekali menulis kata "aku". Dari hari ke hari, aku selalu menulis. Namun kata ganti pertama itu, selalu aku jauhi. Malah semakin jauh dari menulis kata aku, semakin lebih baik.

Tidak adanya kata aku dalam tulisanku hanyalah sebuah keharusan semata. Pekerjaan memaksaku untuk menjadi orang lain. Aku tidak bisa mengemukakan pendapatku sendiri, meski aku yang menuliskannya. 

Tapi persoalan larangan menulis aku secara eksplist maupun implisit, masih dalam perdebatan. Sebenarnya bisa saja, aku menulis tanpa menyertakan kata aku, tapi itu adalah aku. Hanya konteksnya berbeda. Aku dalam "aku" dan aku dalam kalimat-kalimat penunjang aku berbeda fungsi. Ah, semakin rumit saja.

Seorang kawan bertanya, "Terus bagaimana kabarmu? Ceritalah" Pertanyaan itu membuatku agak bingung. Apakah memang sebenarnya aku butuh untuk cerita tentang aku? Sedangkan aku sendiri tidak pernah menginginkan untuk kuketahui sendiri bagaimana aku ini.

Akupun balik bertanya, "Maksudmu?" Begitu bingungnya aku ini ketika dia kembali bertanya "Ya tentang hidupmu." Aku kemudian mencoba bertanya pada diriku sendiri. "Bagaimana kabarku?"

Sulit juga untuk berani berterus terang pada diri sendiri. Aku pikir persoalan aku adalah persoalan yang sederhana. Aku salah. Aku begitu rumit. Bahkan aku yang tidak pernah lepas dari tubuhku merasa meninggalkan diriku dan melupakan diriku sendiri. 

Apalagi pertanyaan tentang hidupku. Dua kata yang terangkai itu begitu rumit. Hidup dan aku. Aku tidak mau memperpanjang lagi bahasan tentang hidup. Karena pasti akan semakin berkembang dan bersayap. Semakin tidak karuan lagi menangkap satu saja dari bagian hidup ini.

Cukuplah tanya aku tentang apa yang aku cari sekarang. Cita-cita ataukah cinta? Namun, sampai kalimat terakhir yang aku tulis ini, masih kurasakan jawabannya menggantung.

Jumat, 18 September 2015

Orang Biasa

Dua minggu ini banyak hal yang menjadi perhatian saya. Banyak pelajaran juga yang saya dapat dari berbagai macam hal tersebut. Mulai dari pekerjaan, keluarga, dan asmara. Ditambah lagi bagaimana cara pandang saya terhadap sosial masyarakat di sekitar saya. Oh ya satu lagi, saya juga merasa ada keberjarakan antara saya dan tuhan. Saya benar-benar merasa menjadi manusia biasa.

Saya pikir saya adalah orang yang sentimentil. Saya tidak bisa berfokus pada satu hal. Semuanya sepertinya terus memasuki pikiran saya silih berganti. Kadang-kadang juga berbarengan. Apalagi ketika pada kondisi dimana saya berhenti dan memikirkan hal itu semua.

Sebenarnya langkah demi langkah sudah saya pastikan untuk berjalan. Hanya saja, sama sekali progress reportnya sering kali tertinggal. Bahkan hilang. Padahal, ingatan itu harusnya terus bisa mengisi puzzel-puzzel kehidupan saya. Sehingga saya bisa dikatakan mampu belajar dari pengalaman.

Kemampuan belajar yang saya miliki ternyata tidak bisa saya pertahankan. Timbul tenggelam. Kadang muncul di permukaan, kadang hanyut dibawa aliran.

Melihat ini semua, saya teringat puisi yang pernah saya buat ketika masih berada di masa awal kuliah. Ada semacam agenda rutin di unit kegiatan mahasiswa (UKM) kesenian Dolanan yang saya ikuti. Namanya Undo, yaitu unek-unek Dolanan. Dalam agenda itu, anggota Dolanan harus menampilkan kesenian secara personal. Buah dari proses yang dilakukan selama sebulan.

Saat itu, tidak ada yang bisa saya buat kecuali hanya puisi. Padahal kawan-kawan saya waktu itu sudah bisa menampilkan bentuk kesenian yang menarik. Ada tari, musik, teater monolog, bahkan lukisan. Saya sama sekali tidak punya kemampuan seperti itu. Kecuali hanya menulis.

Tidak ada seorangpun yang tidak bisa menulis. Itu adalah kemampuan dasar. Apalagi bagi manusia zaman sekarang yang sudah berpendidikan sejak kecil. Dan menulis adalah yang saya pilih. Karena memang selain itu saya tidak bisa.

Saya merasa takjub melihat kemampuan teman-teman saya yang lain. Mereka seolah berjarak begitu jauh dari saya. Coba bayangkan, kawan-kawan saya itu secara skill mampu menampilkan pertunjukan yang tidak semua orang bisa. Menyanyi dengan suara merdu, menari dengan begitu lembut, bermain peran dengan pendalaman yang kuat. Sedangkan saya, hanya memegang lembaran puisi.

Giliran saya untuk menampilkan karya saya. Judulnya ada "Orang Biasa"








Lembaran kertas itu adalah naskah yang saya buat. Saya lupa kapan tanggalnya, yang jelas pada tahun 2009, saat saya masih semester dua di Jurusan Teknologi Hasil Pertanaian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember. 

Saya pun membacanya dengan biasa. Tanpa menggunakan mimik layaknya orang yang mendeklamasikan puisi. Meski saya coba untuk mendeklamasikan, itu pun percuma. Karena kawan-kawan saya bilang, saya ngeflate.

Waktu itu malam sudah larut. Saya senang, saya benar-benar didengarkan oleh mereka. Bahkan jangkrik pun sepertinya tidak berani mengganggu saya membaca. Empat lembar puisi itu tidak saya baca dengan cepat. Saya ingin menikmati setiap kata yang telah keluar dari buah pikiran saya. Yaitu menjadi manusia biasa dan mensyukurinya.

Selasa, 25 Agustus 2015

Belajar Komentar dari Teater Indonesia

Saya benar-benar tidak mengerti apa yang harus saya komentari dengan beberapa fenomena-fenomena ini. Kurs mata uang Rupiah sedang anjlok, ada orang bernama Tuhan, ada penggusuran Kampung Pulo, ada Rizal Ramli. Sebelumnya ada Trigana Air, ada Muktamar NU plus Muhammdiyah. Ada juga sebelumnya MUI sedang sibuk merespon masalah riba.

Terbentuk sebuah panggung teater di sana. Banyak orang yang pastinya menyaksikan dengan berbagai macam emosi. Khususnya bagi orang-orang yang ada di daerah. Yang jauh dari pusat pemerintahan. 

Ada yang marah, ada yang panik, ada yang buat grup hatres, ada yang jadi lovers. Sepertinya semua orang memang masih ingin jadi bagian dari negeri ini. Kalau tidak, pasti banyak orang yang tidak acuh dengan semua itu.

Begitu juga dengan saya secara pribadi. Ada keinginan untuk selalu merespon gejala-gejala yang ada di atas pentas tersebut. Saya tidak bisa hanya berdiam dengan beberapa hal yang mengganggu nurani saya. Mungkinkah itu senada atau malah berkebalikan dari kebanyakan orang.

Karena itu adalah sikap politik. Wajar dimiliki oleh orang yang berpendidikan. Tanpa adanya sikap itu, saya tentunya tidak akan pernah belajar lebih. Apalagi akan semakin kompleks permasalahan yang terjadi. Semakin banyak pula yang dipelajari.

Dalam skala yang lebih besar, sikap dari seorang seperti saya tidak akan berpengaruh apa-apa. Apalagi hanya sisa-sisa masa utopis saya dulu. Masa dimana masih berada di dalam organisasi kemahasiswaan. Tapi di sanalah letak realitas kehidupan saya mulai terbangun.

Benturan keyakinan, dan kenyataan yang berbeda. Hingga membuat orang seperti saya ini bisa berpikir, kenapa sebuah fenomena itu terjadi. Ada berbagai macam kontras yang membangunkan kepekaan sosial.

Di situlah cara saya belajar cultural studies. Yaitu lewat panggung tetaer politik Indonesia. Beberapa jam sebelum menulis tulisan ini, saya membaca sebuah artikel tentang Hasan Tiro. Dia adalah pemimpin Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Artikel itu dapat ditemui di pindai.org.

Dalam kisahnya seorang Hasan Tiro adalah pemuda kritis. Dia juga berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Dia selalu menekankan kata "Indonesia" dalam setiap perjuangannya. Meski demikian, dirinya dianggap makar dan menjadi pemicu disintegrasi bangsa.

GAM kemudian dicap sebagai organisasi sepratis. Kecintaannya diinjak-injak oleh negeri yang dicintainya sendiri. Siapa yang tidak terenyuh dengan kondisi seperti itu?

Namun demikian, adakah hal yang lebih mudah untuk dia lakukan dalam mempertahankan ideologinya? Selain juga mempertahankan diri dari kekerasan.

Itu adalah tragedi. Pemimpin negara saja bingung dalam menyikapinya, apalagi saya. Hahaha...

Dan itu juga, kalau saya sendiri tidak terus belajar dengan berbagai fenomena yang ada, bagaimana saya akan belajar tentang politik. Dimana politik itu selalu saja diibaratkan sebagai medan perang. Apakah memang seperti itu? Politik tak pernah ada kompromi? Apakah memang benar harus ada pengorbanan dalam berpolitik?

Sepertinya kita masih belajar bernegara. Kita seperti membangun peradaban yang tidak jelas apa orientasinya. Kalau hanya mencari untung, kenapa tidak meruntuhkan negeri ini, kemudian membangun perusahaan saja?

Kamis, 06 Agustus 2015

Biar Nggak Lagi Mikirin Kamu

Sudah lama saya tidak nyampah di blog ini. Benar memang kata orang, kalau sudah kerja tidak banyak yang bisa dilakukan. Kesibukan kerja membuat orang jadi lupa apa yang menjadi passionnya. Yah yang namanya kerja pasti ada tuntutan dan beban kerja yang ditanggung.

Saya mencoba untuk tidak larut, pada awalnya. Namun ternyata memang kompleks apa yang menjadi sebab saya bisa lupa dengan keinginan saya dulu. Yang awalnya hobi, malah jadi beban kerja yang sama sekali tidak asyik.

Itu terus berlanjut sampai saat ini ketika menulis keluh kesah yang tidak berarti. Mungkin saja saya memang terlalu mudah lupa dengan hal-hal penting. Sesuatu yang sangat fatal sebenarnya. Malahan, hal-hal yang sepele seperti mikirin kamu itu yang membuat saya sering membuang waktu untuk mengenang.

Padahal kalau dipikir-pikir itu tak punya arti apa-apa. Terlalu menyita banyak waktu. Menyita fokus kerja yang bisa menambah penghasilan dan menyusun masa depan.

Terus kalau ada pertanyaan, apakah ketika memikirkan kamu tidak memikirkan masa depan. Siapa bilang iya. Dan siapa bilang tidak. Haha,,, saya pun masih memikirkannya. Entah hal apa lagi yang membuat saya selalu membuang waktu untuk berpikir hal sepele itu.

Pernah suatu hari ada kawan yang mengajak berbicara serius tentang kamu. Saya pun menanggapinya hanya dengan tertawa. Kawan saya itu begitu menggebu mencari bagaimana saya dalam menghadapi dan nantinya akan mendapatkan kamu.

Saya mencoba menjawab serius. Saya ceritakan bagaimana saya dulu berjuang mulai dari kelas empat SD mencari cinta. Hampir semuanya saya ceritakan, dengan tanpa nama pastinya. Soalnya tahu sendiri kan yang namanya kawan, mau nggak mau pastinya dia tahu siapa yang saya ceritakan.

Tapi cukuplah baginya untuk mengubah pandangannya tentang dunia asmaraku. Saya lebih jago darinya. Meski bukan play boy, haha...

Satu, dua, tiga, saya menghitung berapa orang yang pernah saya dekati. Delapan! gagal empat dan berhasil tiga. Satu masih proses untuk mendapatkan kamu. Ya, proses mendapatkan kamu kalau kamu mau pasti saya akan ulang-ulang perkataan itu.

Kawan saya itupun, kemudian ikut menghitung cara dari sekian orang yang pernah saya dekati itu.Hebatnya kawan saya itu, dia menemukan dua metode yang aku gunakan. Dua metode itu tak pernah saya pikirkan sebanarnya, tapi dia mampu mendefinisikannya dengan jitu. Ah saya rindu berbincang dengannya.

Saya pun mengamini apa yang dia bicarakan. Tentunya dengan saya mencoba memahami cara pandangnya dia untuk masalah asmara ini. Sehingga, dia pun kemudian mengalihkan pembicaraan pada dirinya sendiri. Tapi saya bosan. Sepertinya dia selalu melebih-lebihkan apa yang dia lakukan, dan selalu membuat orang lain harus merasa kalah. Kalau ada yang tahu saya sedang menbicarakan siapa mohon diam ya, hehehe...

Malam kian larut. Perbincangan itu sampai pada sisa-sisa energi yang saya punya. Namun, saya melihat dirinya masih sangat antusias membicarakan tentang asmara. Akhirnya pun saya berbicara yang agak aneh kepadanya.

"Saya sering berpikir kawan (saya tidak memanggilnya dengan sapaan itu sebenarnya), Manusia hidup, kemudian mati itu sudah sangat banyak. Dan setiap manusia menjalani proses kehidupan dan kematian itu. Akhirnya dari situ sebenarnya saya mulai berpikit, bahwa hidup dan mati kita ini adalah natural. Tidak perlu ada yang ditakuti. Seperti halnya jodoh atau pasangan hidup. Buat apa kita menghawatirkan sesuatu yang sudah pasti akan kita dapatkan?"

Mendengar itu, kawan saya menyedot rokoknya dengan dalam. Namun dirinya tidak pernah menerima perkataan saya itu. Anggapannya adalah bahwa hidup dan mati tidak ada nilainya. Sama dengan kehidupan dan kematian yang selalu terjadi setiap hari.

Namun, saya tidak menjawab, dan mencoba untuk menjelaskan apa maksud saya. Karena saya juga masih berpikir tentang hal itu. Apa yang membuat manusia bisa bernilai di dalam kehidupannya? Apakah egoisme kita sendiri yang selalu menginginkan kita bernilai, ataukah nilai yang kita berikan untuk sesama?

Biarlah pertanyaan itu mengambang. Biar saya bisa lebih banyak berpikir tentang hal-hal yang lebih penting. Dari pada saya memikirkan kamu yang sudah pasti akan saya dapatkan. Tapi entah kapan. Hahaha...