Jumat, 25 Oktober 2019

Cliantha Bunga Spesialis Karangan Bunga Ucapan Murah


Setiap bunga memiliki arti yang mendalam. Ada bunga yang menjadi simbol cinta, kasih sayang, penghormatan, simpati, dan lain sebagainya. Pemberian bunga juga merupakan bentuk dari ketulusan dari seseorang kepada orang lain. Cliantha Bunga hadir membantu kita agar lebih mudah menemukan bunga terbaik untuk orang-orang yang kita sayangi.
Cliantha Bunga merupakan spesialis aneka karangan bunga ucapan. Mulai dari ucapan duka cita, pernikahan, ulang tahun, opening, wisuda, dan sebagai bentuk cinta kepada kekasih. Berbagai macam jenis bunga, bentuk karangan, hingga layanan pengiriman bisa kita temukan dengan mudah hanya di Cliantha Bunga ini.
Produk Cliantha Bunga
Karangan bunga ucapan yang baik harus terdiri dari bunga-bunga yang berkualitas. Di Cliantha Bunga kita akan menemukan bunga-bunga yang segar, memiliki berbagai macam warna yang unik dan menarik, dan juga bebas dari berbagai macam hama dan penyakit.
Tidak hanya itu saja, disini kita juga akan menemukan berbagai macam jenis bunga dan berbagai macam varietas. Contohnya adalah mawar, tidak hanya memiliki satu varietas saja. Ada beberapa varietas dari mawar yang memiliki bentuk, warna, dan ukuran yang berbeda.
Selain bunga yang berkualitas, Cliantha Bunga juga mampu membuat berbagai jenis karangan bunga. Berikut adalah beberapa produk karangan bunga ucapan dari Cliantha Bunga:
Papan Karangan Bunga
Papan karangan bunga ini berbentuk persegi empat dengan berbagai ukuran. Biasanya digunakan sebagai ucapan dari personal, lembaga, komunitas, atau juga perusahaan untuk ulang tahun, pernikahan, opening, dan duka cita.
Karangan Bunga Krans
Krans memiliki desain yang sederhana dengan ciri khas bulat, lonjong. Biasanya bentuk karangan bunga seperti ini digunakan untuk ucapan selamat dan juga duka cita.
Karangan Bunga Standing Flower
Desain dari standing flower ini merupakan karangan bunga yang diletakkan di atas kaki-kaki, sehingga bisa berdiri sendiri. Biasanya standing flower ini diletakkan di samping pintu, dan area luar rumah. Bentuk karangan ini memiliki arti sebagai ucapan selamat datang dari pemilik acara.
Karangan Bunga Hand Bouquet
Karangan bunga ini dibentuk lebih kecil sehingga lebih mudah untuk dipegang. Karangan seperti ini bisa kita lihat ketika pengantin wanita memegang karangan bunga. Biasanya juga karangan bunga ini diberikan kepada orang-orang yang kita sayangi sebagai simbol cinta, dan kasih sayang.
Karangan Bunga Meja
Karangan bunga ini biasanya dibentuk di dalam vas, botol, atau apapun bentuknya agar lebih mudah diletakkan di atas meja. Fungsinya adalah untuk hiasan sebuah ruangan agar terlihat lebih indah.
Itulah beberapa jenis dari karangan bunga yang bisa kita dapatkan dari Cliantha Bunga. Kita juga tidak perlu kesulitan untuk memesan produk-produk yang kita inginkan. Karena Cliantha bunga memberikan layanan pemesanan yang mudah dan cepat.
Layanan Jasa Cliantha Bunga
Untuk pemesanan karangan bunga dari Cliantha Bunga bisa kita lakukan melalui online dan offline. Cara pemesanan lewat online sangat sederhana, karena kita bisa menghubungi Cliantha bunga lewat call, SMS, Whatsapp, dan juga email di alamat yang sudah disediakan. Untuk info lebih lengkap kunjungi websitenya di clianthabunga.com.
Selain pemesanan online, kita juga bisa melakukan pemesanan offline. Kita bisa langsung datang ke toko Cliantha Bunga yang beralamat di Pasar Bunga Kayoon Stan B-26A, Jalan Kayoon Surabaya.
Layanan free ongkir juga bisa kita dapatkan ketika berada di area kota Surabaya. Namun, untuk yang berada di luar Surabaya jangan khawatir, karena tetap bisa mendapatkan karangan bunga dengan pengiriman yang cepat.
Cliantha Bunga menjadi salah satu toko bunga dengan spesialisasi karangan bunga terbaik. Sehingga kita akan mendapatkan bunga terbaik, karangan bunga yang menarik, dan juga layanan yang cepat dan memuaskan.

Fitur Hosting Ardetamedia Murah dengan Performa Tinggi


Internet telah menjelma menjadi sebuah kebutuhan baru di dunia bisnis, khususnya dalam pembuatan web hosting. Individu maupun perusahaan bisa memanfaatkan website ini sebagai media untuk mengembangkan usaha. Disanalah Ardetamedia hadir sebagai sebuah perusahaan hosting yang memberikan layanan dengan mengedepankan kualitas.
Kebutuhan dari sebuah hosting ini bisa kita lihat dari beberapa fungsi website. Fungsi dari website tersebut biasanya dibedakan berdasarkan jenis website. Seperti website company profil, government, eCommerce, archive, portal berita atau informasi, dan juga blog. Karena itulah dibutuhkan web hosting untuk menampung data-data dari website tersebut.
Fitur Menarik Ardetamedia
Kualitas sebuah hosting akan terlihat dari beberapa fitur yang ditawarkan oleh perusahaan hosting ini. Kita bisa memilih hosting unlimited SSD dan juga cloud hosting dengan harga yang sangat murah. Selain itu, kita yang menjadi pelanggan baru akan mendapatkan domain baru atau juga transfer domain dari luar Ardetamedia.com.
Hosting Unlimited SSD
Untuk hosting unlimited SSD ada beberapa pilihan yang bisa didapatkan. Mulai dari hosting yang diperuntukkan pemula hingga untuk para profesional. Ada empat kriteria hosting unlimiter SSD tersebut.
Pertama adalah paket Hello. Dalam paket ini kita hanya dibebani harga yang sangat murah, yaitu Rp 30 ribu perbulan. Dengan harga yang sangat terjangkau tersebut kita sudah mendapatkan gratis domain .COM setahun, unlimited SSD storage, 1 CPU 1 GHz, RAM 512 MB, entry proccess 20, inode 500.000, dan tentunya juga layanan support setiap waktu.
Kedua adalah paket Luxury. Paket ini merupakan paket medium yang mendapatakan diskon besar, hanya Rp 45 ribu sebulan. Hampir sama seperti paket sebelumnya, namun dengan performa CPU yang lebih baik, yaitu dengan 1 CPU 2GHz, RAM 2048 MB, entry proccess 100, dan inode 750.000.
Ketiga adalah paket Enterprice. Dalam paket ini kita akan mendapatkan performa yang lebih baik lagi hanya dengan harga Rp 80 ribu. Dengan 2 CPU 2x2 GHz, RAM 4096 MB, entry proccess 200, dan inode 1.000.000. Masih ditambah dengan gratis dedicated IP. Tentunya sangat cocok bagi kita yang menggunakan website profesional.
Keempat adalah paket Elite. Paket ini adalah paket terbesar di antara paket-paket lainnya hanya dengan harga Rp 95 ribu. Kita akan menemukan performa terbaik dari Ardetamedia. Dengan 3 CPU  3x2 GHz, RAM 6144 MB, entry proccess 300, inode 1.500.000, dan juga gratis dedicated IP.
Cloud Hosting
Sedangkan untuk cloud hosting ada tiga paket yang ditawarkan. Yaitu mulai dari Basic, Profesional, dan Business.
Untuk paket Basic, kita hanya diharuskan membayar dengan harga Rp 200 ribu perbulan. Dengan biaya itu kita akan mendapatkan performa yang sangat baik dari sebuah hosting. Yaitu 15000 MB SSD storage, 200.000 MB bandwidth, 1 core CPU, RAM 2 GB, entry proccess 100, dan inode 1.000.000.
Paket Profesional harganya Rp 400 ribu perbulan. Dengan spesifikasi 25000 SSD storage, 500.000 MB bandwidth, 2 core CPU, RAM 4 GB, entry proccess 200, dan inode 1.000.000.
Sedangkan untuk Business Cloud, kita diharuskan membayar dengan harga Rp 600 ribu per bulan. Spesifikasi yang didapatkan berupa 35000 MB SSD storage, 1.000.000 MB bandwidth, 4 core CPU, RAM 6 GB, entry proccess 300, dan inode 1.000.000.
Fitur menarik yang ditawarkan web hosting Ardetamedia ini bisa didapatkan dengan mudah. Kita bisa langsung mengunjungi websitenya di ardetamedia.com. Ditambah dengan support system yang ada di dalamnya, pastinya akan membuat kita lebih mudah mengembangkan web hosting yang kita gunakan untuk apapun tujuan kita.

Selasa, 17 Mei 2016

Teruslah Bercerita!

Kau yang semestinya jadi kekasihku...
Aku teringat dengan tulisan Pram dalam sebuah novelnya, Anak Semua Bangsa. Jika kau belum membaca bukunya, boleh kan jika aku ceritakan sekilas saja? Katamu kau suka mendengar ceritaku dengan detail. Kau tak suka jika aku hanya mengatakan, "Ceritanya bagus!" "Sama saja bohong," katamu kemudian, dan meminta pertanggungjawabanku.
Begitu juga dengan aku. Aku suka saat kau bercerita dan membuatku tertawa. Kali ini aku ingin bercerita untukmu. Karena entah kapan lagi aku bisa bercerita seperti dulu.
Dalam salah satu bab, Minke, tokoh utama novel tersebut tengah mengalami kesedihan. Kekasihnya, Annelis, direbut oleh orang yang mengklaim adalah keluarganya. Padahal kau tahu, Annelis adalah anak seorang bangsawan Belanda dengan seorang Nyai Jawa. Saat ayahnya meninggal, orang Belanda yang masih punya darah dengan ayahnya, meminta Annelis sebagai ahli waris untuk dibawa ke Belanda. Sedangkan Nyai Jawa, dianggap bukan siapa-siapa. Padahal dialah yang melahirkan dan membesarkan Annelis.
Tapi, saat itu hukum seperti halnya sekarang hanya berpihak pada orang besar. Apalagi bangsawan Belanda, yang menciptakan hukum untuk melindungi kepentingan mereka sendiri. Annelis pun dibawa dengan paksa ke Belanda. Meinggalkan Minke, dan ibunya.
Tidak hanya Minke dan sang Nyai yang sedih. Annelis jauh lebih sedih, sampai dia mengalami shock yang berpengaruh ke mentalnya. Annelis jatuh sakit pada waktu perjalanan ke Belanda. Jangan kau bayangkan waktu itu sama dengan sekarang. Waktu itu, belum ada pesawat terbang komersil. Sehingga Annelis harus menempuh jalur laut yang begitu panjang.
Kondisi perjalan yang sangat jauh membuat tubuh Annelis semakin lemah. Diapun meninggal sesaat setelah sampai di Belanda. Tragisnya lagi orang yang mengaku keluarganya sama sekali tidak menghiraukan Annelis. Bahkan, Annelis tidak dimakamkan dengan layak.
Kau bisa bayangkan bagaimana perasaan Minke dan sang Nyai kan? Seorang kekasih dan anak direbut untuk dibunuh. Bayangkan betapa kesedihan itu mengganggu jiwa dan mental Minke.
Dalam suasan berkabung itulah Minke harus tetap hidup. Traumatik dengan Belanda dan ketidakberdayaan Jawa membuatnya malah membenci Jawa. Padahal, Minke sendiri adalah seorang anak Bupati yang seratus persen Jawa. Jawa Totok.
Minke termasuk orang yang beruntung. Dia berkesempatan menempuh pendidikan Eropa. Yang saat itu menjadi pusat peradaban tidak hanya di Jawa, tapi dunia. Semua orang pribumi sangat segan melihat Minke yang selalu berpakaian Eropa, apalagi dia juga terpelajar.
Dalam kesehariannya, Minke dikenal sebagai penulis. Dia rajin menulis di koran internasional. Tulisannya dibaca oleh banyak orang. Khususnya adalah orang-orang yang bisa bahasa Belanda. Karena, Minke hanya mau menulis dengan bahasa itu.
Sudah terpatri dalam kepalanya, semua yang berbau Eropa adalah hebat. Dia ingin agar para pribumi mengikuti gaya hidup orang Eropa yang modern, berpendidikan. Sehingga pribumi bisa lebih beradab.
Dengan tulisannya dalam bahasa Belanda itu, Minke menceritakan semua yang dialaminya. Diapun mendapat banyak dukungan dari orang-orang Eropa. Tapi semua itu percuma, Annelis sudah tidak bisa kembali.
Entah seperti apa penafsiran orang lain yang membaca cerita itu. Tapi menurutku Minke egois. Dia hanya mementingkan dirinya sendiri. Dia menulis hanya untuk simpati dari orang Eropa. Tidak ada dalam pikirannya, sesama pribumi dapat membantunya. Secara tidak langsung dia juga merendahkan pribumi.
Kemudian datang seorang Eropa lain. Namanya Kommer, seorang jurnalis dari koran lokal Surabaya. Dia orang yang yakin bahwa pribumi bisa bangkit. Kommer melihat hal itu dalam diri orang-orang seperti Minke. Hanya saja, kebanyakan orang-orang seperti Minke selalu menganggap Eropa lebih superior.
Kommer mencoba mengubah sudut pandang Minke. "Menulislah dengan bahasa ibumu. Agar pribumi lain punya harapan untuk bangkit," katanya. Bahkan Kommer menyindir dengan begitu keras kepada Minke, "Kamu tidak kenal bangsamu sendiri!"
Tapi untuk mengubah persepsi seseorang sangatlah sulit. Minke pun demikian. Minke marah besar saat dibilang tidak mengenal bangsanya sendiri. Namun kata-kata itu selalu dipikirkannya. Dia kemudian merasakan juga apa yang dimaksud oleh Kommer. Dia memang benar-benar tidak begitu mengenal dengan bangsanya sendiri.
Kesepakatan pikiran Minke itu ditemukannya saat suatu hari dia bertemu dengan seorang petani yang rumahnya berada di tengah-tengah kebun tebu. Minke menemukan realitas yang sebelumnya tidak pernah dia baca dalam buku-buku Eropa.
Trnodongso, nama petani itu punya sebidang tanah dan rumah di tengah kebun tebu. Sedikit demi sedikit tanahnya dirong-rong oleh pabrik tebu milik kompeni. Pabrik bahkan menggunakan cara-cara licik agar tanah Trunodongso itu bisa diambil alih. Yaitu melalui orang-orang pribumi sendiri, terutama kepala desa.
Jika tidak mau menyewakan tanahnya, Trunodongso akan dilemahkan dengan berbagai cara. Lewat saluran irigasi yang diputus, lewat akses jalan yang diputus, bahkan lewat kekerasan. Tapi Trunodongso tetap tidak mau menyewakannya. Apalagi harga sewa sangat kecil. Untuk satu bahu, hanya bisa dimakan untuk sebulan saja. Trunodongso adalah satu-satunya petani yang menolak menyewakan tanahnya. Kemampuan beladirinya yang membuatnya tetap mampu bertahan.
Minke menemukan Trunodongso karena melihat ada keganjilan di kebun tebu saat dia pergi jalan-jalan. Saat itu, Trunodongso sedang mengusir orang-orang yang memaksanya menyewakan tanah. Penasaran, dan tertantang untuk mengetahui secara langsung bangsanya sendiri, Minke mendekatinya.
Demi membuktikan dia juga bisa mengenali bangsanya Minke maju. Meski tatapan merah mata Trunodongso mengancam. Apalagi Trunodongso sedang membawa senjata tajam. Dengan sangat hati-hati dia mencoba berbicara kepada Trunodongso. "Aku bukan bagian dari mereka. Aku kesini hanya ingin tahu persoalanmu. Mungkin bisa membantu," kata Minke merayu Trunodongso.
Akhirnya Trunodongso pun luluh. Dia menerima Minke, dan kesempatan itu dimanfaatkan Minke mengetahui apa yang menjadi masalah petani tersebut.
Dua hari Minke menginap di sana. Dia mendapatkan cerita-cerita yang tidak pernah dia dengar sebelumnya. Intinya, semua petani pemilik lahan yang lahannya disewakan kepada pabrik tidak mendapat ganti yang sesuai. Sementara para mendor dan pejabat pabrik hidup mewah.
Minke pun menuliskan semua kisah itu. Dia mengakui dia memang belum mengenal bangsanya sendiri...
Aku ingin bercerita lebih panjang lagi. Jika cerita ini selesai, akan kulanjutkan dengan cerita-cerita lainnya. Tapi apakah kau mau terus mendengarkan cerita-ceritaku? Ahhh......
Tapi mungkin lebih baik kau mulai membaca ceritanya sendiri. Kau punya cara baca sendiri yang berbeda dengan cara pandangku. Kau ungkapkan itu semalam tadi.
Kau yang semestinya jadi kekasihku. Aku ingin terus bercerita dan terus mendengar ceritamu....

Jumat, 01 Januari 2016

Harapan Tahun Baru: Mengingat!

Setiap momen selalu kuanggap penting. Entah itu tahun baru, hari ulang tahun, apapun dari pemancang waktu yang menandakan sebuah peristiwa penting. Penting bagiku sendiri, dan penting bagi kebanyakan orang.

Disitu letaknya cermin. Bisa mengingat, lebih tepatnya diingatkan pada waktu-waktu yang dulu pernah berkesan.

Karena aku memang pelupa. Sering lupa dengan apa yang menjadi keinginanku sendiri. Bahkan sering diingatkan oleh orang lain.

Aku adalah orang yang beruntung. Banyak sekali orang yang mengingatkanku. Banyak juga aku diingatkan oleh waktu. Hingga momen kembali terulang dan memaknai kembali di waktu yang baru terjadi.

Seperti hari ini. Momen awal tahun yang sering kali digunakan untuk merefleksi hasil yang didapat di tahun lalu. Ada progres, stagnan, atau turun?

Tidak jarang yang punya semangat untuk berubah. Meski hanya angan-angan saja. Tidak jarang pula yang tidak peduli. Merasa dunia ini telah kejam tidak memberikan keuntungan kepadanya.

Ada juga jenis teman yang memang benar-benar tidak peduli. Teman seperti ini lah yang tidak pernah aku mengerti cara pandangnya. Bukan harapan yang menjadi bahan bakarnya. Sebaliknya, kekecewaan.

Mungkin benar ketika aku dibilang orang dengan karakter plegmatis. Orang yang jarang beradu argumen. Punya ruang kompromi luas, hingga kadang banyak hal aku lewatkan, dan sangat mudah mengalah.

Aku sangat berterima kasih telah ditunjukkan. Karena dengan hal itu, paling tidak satu persoalan dalam diriku sudah ku mengerti.

Tinggal kemudian beranjak untuk mencari keinginanku. Seorang teman lain bertanya dengan agak serius, yang intinya dia menanyakan rencana ke depanku.

Aku bilang aku tidak tahu persis. Hanya yang paling aku inginkan adalah untuk mulai berkarya.

Jawabanku ini sebenarnya membuatku berpikir ulang. Karya-karya yang telah aku buat, bukan karya untuk diriku. Itu karya dari tuntutan pekerjaan.

Kemudian aku mengatakan kepadanya, aku akan membuat buku. Enam bulan akan aku kerjakan. Setelahnya, aku tentukan kembali rencanaku.

Hari ini, sengaja ingin kudirikan pancang waktu. Momen untuk mengingatkanku saja. Mungkin nanti aku lupa. Karena aku baru saja punya keinginan untuk memperbaiki daya ingat. Tidak lagi diingatkan, tapi dari dalam diriku sendiri.

Kamis, 17 Desember 2015

Bukan Pertama Mengenal Pagi

Hari ini ada bersitan kuat dalam kepala untuk segera mengubah diri. Bangun setengah lima pagi. Mandi. Solat subuh. Menyiapkan sepatu, dan lari. 

Aku merasakan kakiku sangat ringan. Dengan jaket dan celana pendek, langkah kakiku kupercepat. Namun aku masih malas untuk mendengar hiruk pikuk yang ada di sekitar. Aku pasang headset ke telinga. Kudengarkan radio pagi dengan isi acara yang tanpa banyak pilihan. Berita AS, kuliah subuh, dan lagu religi.

Berkali-kali aku pindah saluran radio, tetap tiga jenis acara itu yang terdengar. Akhirnya aku pilih saluran berita dari VOA. Khas berita yang menggemakan nama Amerika, teroris, dan kekuasaan Amerika di Asia.

Kejengkelanku itu malah mendorongku untuk terus lari. Satu blok aku lewati, kemudian belok ke selatan menuju pasar Baru di jalan Gubernur Suryo Lumajang. Aku tetap memilih jalur lurus sampai satu blok kemudian aku belok kanan.

Asap kendaraan sangat terasa. Padahal kendaraan pagi itu masih sedikit. Kontras sekali dengan di siang hari seperti biasanya. Tapi tak aku hiraukan. Aku pikir udara pagi masih terlalu bersih dari cemaran dua atau tiga kendaraan.

Aku heran sendiri, kenapa aku belum nampak lelah. Padahal, sudah satu kilo aku berlari. Lagi-lagi aku merasakan keanehan di pagi ini. Tapi aku tetap melanjutkan berlari. Arah pertama ke GOR Wirabhakti di jantung kota Lumajang.

Sampai di sana, aku belum merasa lelah. Aku mulai melakukan peregangan. Push up, sit up, dan back up. Gerakan itu sederhana, tapi butuh menghalau rasa malas yang luar biasa. Kemalasan itulah yang membuat beban tubuh berkali lipat beratnya.

Sepuluh menit kemudian, aku kembali berlari. Di pojok bagian timur Gor aku lihat sebuah alat pull up. Waktu aku dekati ada seorang laki-laki sekitar 28 tahun mengajak dua anak kecil. Dibopongnya salah satunya kemudian dipegangkan ke alat pull up itu.

Jelas aku tidak mau mengganggu. Aku berubah pikiran dan meneruskan lari mengitari Gor. Sekitar duapuluh paruh baya dari golongan tionghoa sedang senam di depanku. Aku merasa sedikit mendapatkan pehatian mereka. Tidak aku hiraukan. Aku teruskan mengitari Gor itu.

Di titik dekat alat pull up untuk yang kedua kalinya itu aku berhenti. Dua anak kecil dan satu orang laki-laki tadi sudah menjauh. Aku mulai menggunakan alat itu. Berat. Saat aku angkat tubuhku, tiba-tiba dadaku sesak. Mataku berkunang-kunang. Aku tidak memaksakan diri. Aku turun, kemudian menurunkan kepalaku dalam posisi seperti rukuk. 

Mungkin saat aku naik pull up itu, darahku tidak ikut naik. Hingga aliran darah di otak sedikit tehambat. Aku merasakan nafasku juga terengah-engah.

Dalam posisi rukuk itu, aku dapatkan kembali keseimbangan tubuhku. Aku ulangi lagi pull up. Hanya saja, dua anak tadi begitu melihatku langsung mendekat dan ingin ikut bermain dan bergelayutan. Aku mengalah dan melanjutkan lariku kembali pulang. 

Dari Gor aku mau langsung pulang dan istirahat. Tapi ada sedikit lagi dorongan untuk lebih lama lagi berkenalan dengan pagi. Karena catatan setiap hariku, selalu melewatkan pagi. Itulah keajaiban yang sebenarnya. 

Mulai Tulis "Aku"

Aku baru ingat, aku jarang sekali menulis kata "aku". Dari hari ke hari, aku selalu menulis. Namun kata ganti pertama itu, selalu aku jauhi. Malah semakin jauh dari menulis kata aku, semakin lebih baik.

Tidak adanya kata aku dalam tulisanku hanyalah sebuah keharusan semata. Pekerjaan memaksaku untuk menjadi orang lain. Aku tidak bisa mengemukakan pendapatku sendiri, meski aku yang menuliskannya. 

Tapi persoalan larangan menulis aku secara eksplist maupun implisit, masih dalam perdebatan. Sebenarnya bisa saja, aku menulis tanpa menyertakan kata aku, tapi itu adalah aku. Hanya konteksnya berbeda. Aku dalam "aku" dan aku dalam kalimat-kalimat penunjang aku berbeda fungsi. Ah, semakin rumit saja.

Seorang kawan bertanya, "Terus bagaimana kabarmu? Ceritalah" Pertanyaan itu membuatku agak bingung. Apakah memang sebenarnya aku butuh untuk cerita tentang aku? Sedangkan aku sendiri tidak pernah menginginkan untuk kuketahui sendiri bagaimana aku ini.

Akupun balik bertanya, "Maksudmu?" Begitu bingungnya aku ini ketika dia kembali bertanya "Ya tentang hidupmu." Aku kemudian mencoba bertanya pada diriku sendiri. "Bagaimana kabarku?"

Sulit juga untuk berani berterus terang pada diri sendiri. Aku pikir persoalan aku adalah persoalan yang sederhana. Aku salah. Aku begitu rumit. Bahkan aku yang tidak pernah lepas dari tubuhku merasa meninggalkan diriku dan melupakan diriku sendiri. 

Apalagi pertanyaan tentang hidupku. Dua kata yang terangkai itu begitu rumit. Hidup dan aku. Aku tidak mau memperpanjang lagi bahasan tentang hidup. Karena pasti akan semakin berkembang dan bersayap. Semakin tidak karuan lagi menangkap satu saja dari bagian hidup ini.

Cukuplah tanya aku tentang apa yang aku cari sekarang. Cita-cita ataukah cinta? Namun, sampai kalimat terakhir yang aku tulis ini, masih kurasakan jawabannya menggantung.

Jumat, 18 September 2015

Orang Biasa

Dua minggu ini banyak hal yang menjadi perhatian saya. Banyak pelajaran juga yang saya dapat dari berbagai macam hal tersebut. Mulai dari pekerjaan, keluarga, dan asmara. Ditambah lagi bagaimana cara pandang saya terhadap sosial masyarakat di sekitar saya. Oh ya satu lagi, saya juga merasa ada keberjarakan antara saya dan tuhan. Saya benar-benar merasa menjadi manusia biasa.

Saya pikir saya adalah orang yang sentimentil. Saya tidak bisa berfokus pada satu hal. Semuanya sepertinya terus memasuki pikiran saya silih berganti. Kadang-kadang juga berbarengan. Apalagi ketika pada kondisi dimana saya berhenti dan memikirkan hal itu semua.

Sebenarnya langkah demi langkah sudah saya pastikan untuk berjalan. Hanya saja, sama sekali progress reportnya sering kali tertinggal. Bahkan hilang. Padahal, ingatan itu harusnya terus bisa mengisi puzzel-puzzel kehidupan saya. Sehingga saya bisa dikatakan mampu belajar dari pengalaman.

Kemampuan belajar yang saya miliki ternyata tidak bisa saya pertahankan. Timbul tenggelam. Kadang muncul di permukaan, kadang hanyut dibawa aliran.

Melihat ini semua, saya teringat puisi yang pernah saya buat ketika masih berada di masa awal kuliah. Ada semacam agenda rutin di unit kegiatan mahasiswa (UKM) kesenian Dolanan yang saya ikuti. Namanya Undo, yaitu unek-unek Dolanan. Dalam agenda itu, anggota Dolanan harus menampilkan kesenian secara personal. Buah dari proses yang dilakukan selama sebulan.

Saat itu, tidak ada yang bisa saya buat kecuali hanya puisi. Padahal kawan-kawan saya waktu itu sudah bisa menampilkan bentuk kesenian yang menarik. Ada tari, musik, teater monolog, bahkan lukisan. Saya sama sekali tidak punya kemampuan seperti itu. Kecuali hanya menulis.

Tidak ada seorangpun yang tidak bisa menulis. Itu adalah kemampuan dasar. Apalagi bagi manusia zaman sekarang yang sudah berpendidikan sejak kecil. Dan menulis adalah yang saya pilih. Karena memang selain itu saya tidak bisa.

Saya merasa takjub melihat kemampuan teman-teman saya yang lain. Mereka seolah berjarak begitu jauh dari saya. Coba bayangkan, kawan-kawan saya itu secara skill mampu menampilkan pertunjukan yang tidak semua orang bisa. Menyanyi dengan suara merdu, menari dengan begitu lembut, bermain peran dengan pendalaman yang kuat. Sedangkan saya, hanya memegang lembaran puisi.

Giliran saya untuk menampilkan karya saya. Judulnya ada "Orang Biasa"








Lembaran kertas itu adalah naskah yang saya buat. Saya lupa kapan tanggalnya, yang jelas pada tahun 2009, saat saya masih semester dua di Jurusan Teknologi Hasil Pertanaian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember. 

Saya pun membacanya dengan biasa. Tanpa menggunakan mimik layaknya orang yang mendeklamasikan puisi. Meski saya coba untuk mendeklamasikan, itu pun percuma. Karena kawan-kawan saya bilang, saya ngeflate.

Waktu itu malam sudah larut. Saya senang, saya benar-benar didengarkan oleh mereka. Bahkan jangkrik pun sepertinya tidak berani mengganggu saya membaca. Empat lembar puisi itu tidak saya baca dengan cepat. Saya ingin menikmati setiap kata yang telah keluar dari buah pikiran saya. Yaitu menjadi manusia biasa dan mensyukurinya.